A.X.L: Petualangan Minim Kesan

153484989977543_300x430

25112

“I don’t think it’s owner deserves to get him back” – Miles

Cast: Alex Neustaedter, Becky G, Thomas Jane, Alex MacNicoll, Lou Taylor Pucci, Ted McGinley / Director: Oliver Daly / Genre: Adventure, Sci-fi / Running time: 98 minutes.

Mungkin tidak banyak yang tahu tentang film ini. Jelas bukan tipe film kelas A yang diantisipasi banyak orang, film yang asalnya merupakan pengembangan cerita dari film pendek karya sang sutradara berjudul Miles ini adalah film sci-fi. Dari melihat trailernya, mungkin penonton dengan mudah menebak akan kemana arah alurnya, lantas masihkah A.X.L yang konsepnya sedikit mengingatkan kita dengan film-film berformula sejenis seperti Transformers ataupun yang terbaru Alpha ini termasuk film dengan kategori film yang ‘boleh di tonton tetapi jika di skip juga tidak masalah’? Suguhannya meskipun tidak baru tentu membuktikan pembuktian apakah benar tidak lebih dari sekedar sci-fi mainstream atau malah unpromising movie yang hasilnya ternyata jauh lebih baik dari ekspektasi?

imageFilm ini berkisah tentang perjalanan Miles (Alex Neustaedter) yang bercita-cita menjadi pembalap motor terbaik. Kehidupannya kemudian berubah setelah menemukan robot anjing dan mulai mencoba berinteraksi dengannya robot tersebut. A.X.L singkatan dari Attack, Exploration & Logistics adalah robot masa depan berjantung organik anjing hasil eskperimen pihak militer yang diciptakan untuk keperluan perang. Mengetahui bahewa temuannya itu bersifat berbahaya, Miles yang berniat mengamankan dan menyelamatkan sahabat barunya itu kemudian harus mengalami serangkaian petualangan menegangkan dikejar oleh pihak musuk yang menginginkan robot tersebut kembali. Dengan bantuan Sara (Becky G), Miles berusaha meyakinkan orang banyak bahwa sahabatnya bukanlah robot yang berbahaya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sebuah film yang mengangkat kisah yang terasa familiar dengan film-film rilisan sebelumnya. Toh, originalitas memang bukan menjadi penentu sebuah film akan berakhir bagus ataupun sebaliknya. Contohnya saja Crazy Rich Asians. Oh, come on.. siapa yang tidak setuju jika dikatakan bahwa plot film tersebut selain tidak menawarkan hal baru juga merupakan plot film drama yang terlampau usang dimana film dengan formula tersebut sudah sangat sering kita jumpai. Namun apa yang membuat film yang melambungkan nama Henry Golding tersebut tetap mampu tampil memikat dan bahkan meraih rating bagus di situs film dunia? Ada banyak faktor tentu, salah satunya adalah performa para cast-nya. Yang terpenting tentu eksekusi filmnya secara keseluruhan. Sayangnya, A.X.L gagal hampir di seluruh poin-poin penting. Secara individual, performa cast terasa kurang mumpuni. Hal tersebut berdampak pula pada chemistry antar pemain yang kurang believable. Otomatis emosi yang diharapkan dapat dihadirkan, tidak selalu berhasil tercipta.

AXL-clip-screenshot-600x302Eksekusi yang secara keseluruhan terasa tidak maksimal juga membuat A.X.L gagal menutupi kesalahan-kesalahan di part lain meskipun tidak dipungkiri bahwa kisah from zero to hero atau yang mengangkat sisi emosional antara manusia dengan hewan/robot selalu menarik untuk di tonton. Yang tersaji dalam 98 menit adalah adegan demi adegan klise yang tidak terlihat niat untuk diperbaharui sehingga terasa hanya mengulang-ulang format yang sama dari film sejenis. Tidak sampai berakhir sangat buruk, masih ada beberapa adegan yang cukup mampu membuat senyum tersungging, tapi jelas ini adalah film yang forgettable. Kembali ke pertanyaan awal, apakah film ini cukup di rekomendasikan? Ya, boleh ditonton namun di skip pun tidak masalah.

Asih: Spin-off Potensial Yang Kurang Berkesan

ASIH_REV21sept2018

“Dia sudah kesini, sejak malam kelahiran bayimu..”

22

Cast: Citra Kirana, Darius Sinathrya, Shareefa Daanish, Marini Soerjosoemarno, Alex Abbad, Djenar Maesa Ayu, Egi Fedly / Director: Awi Suryadi / Genre: Horror / Runtime: 78 minutes.

Sudah menjadi hal yang dapat diprediksi, ketika dalam sebuah film ada satu karakter pendukung yang mampu mencuri perhatian ditambah dengan pencapaian angka penonton yang bagus, maka spin-off kemungkinan besar akan terjadi. Di Hollywood sendiri tentu kita tahu bahwa kesuksesan The Conjuring dapat membuahkan Annabelle sebagai spin-off dan juga terjadi pada salah satu film teranyar tahun ini, The Nun yang menceritakan karakter Valak yang sempat ramai ketika The Conjuring 2 (2017) dirilis. Tidak membutuhkan waktu yang lama, pihak studio yang merilis film tersebut langsung mengkonfirmasi mengenai rencana pembuatan Valak sebagai sebuah film utuh. Hal tersebut pun terjadi dalam perfilman Indonesia. Yang terbaru adalah Asih, karakter pembantu yang mencuri perhatian lewat film Danur: I Can See Ghosts (2017) yang sukses besar meraup 2,5 juta penonton diikuti dengan Danur 2: Maddah yang hanya berselang 1 tahun.

ASIH-image-4Asih bercerita tentang sang karakter di 37 tahun sebelum peristiwa Danur. Asih (Shareefa Daanish) mengakhiri hidupnya setelah ia diusir dari rumah oleh kedua orangtuanya karena memiliki anak diluar pernikahan. Dianggap aib bagi kampungnya, anak Asih pun tidak diterima, hingga akhirnya peristiwa itupun terjadi. Ia bunuh diri setelah membunuh anaknya. Kepergiannya yang penuh amarah dan tidak tenang membawanya kembali. Asih lalu menganggu sebuah keluarga yang baru saja kelahiran seorang bayi. Sang Ibu (Citra Kirana) terus di teror hantu perempuan yang menginginkan anaknya. Suaminya (Darius Sinathrya) yang awalnya tidak percaya mau tidak mau mencari cara agar keluarganya terbebas dari gangguan hantu bunuh diri yang mengancam nyawa keluarganya.

Terciptanya film spin-off yang pertimbangannya sudah pasti berdasarkan potensi film pendahulunya pada kenyataannya selalu berakhir menggembirakan dimana raihan penonton dapat dipastikan akan bermain di angka yang bagus namun belum tentu dengan respon kritikus dan reviewer mengenai filmnya secara utuh. Apakah Asih termasuk salah satu yang akan sukses meraup untung diikuti dengan kesanggupannya tersaji sebagai sebuah film horror yang apik? Jawabannya adalah iya dan tidak. Iya, karena tentu secara potensi Asih dalam mencetak angka penonton yang bagus rasanya tetap sangat memungkinkan tapi tidak untuk tugasnya sebagai sebuah film horror. Mau tidak mau penonton akan membandingkannya dengan dua film sebelumnya (dan mungkin juga dengan film-film horror tahun ini yang semakin ramai di rilis). Meski harus diakui bahwa karya terbaru dari Awi Suryadi ini memiliki production value yang bagus (tata artistik, kamera dan suara yang baik) namun jika berdiri secara utuh film ini gagal dalam tugasnya ‘menciptakan suasana menegangkan’ atau ‘menakut-nakuti penontonnya’.

1534751274.488378 menit bergulir datar dan tanpa kesan, film ini jelas gagal dalam memenuhi ekspektasi penonton yang mengharapkan kisah karakter yang dimainkan Shareefa Daanish di tampilkan secara maksimal dalam satu film. Tidak masalah sebenarnya dengan hadirnya karakter-karakter baru yang diceritakan adalah sebuah keluarga tetapi rasanya porsi yang dihadirkan tidak cukup proporsional dimana meskipun asal usul Asih sempat dibahas di menit-menit awal dan akhir, keseluruhan film 80% berisi kisah keluarga baru tersebut. Merupakan sebuah kekecewaan bagi saya pribadi yang berekspektasi akan melihat sosok Shareefa Daanish sepanjang film. Di film ini, Asih tidak ubahnya seperti karakter pendukung dengan porsi yang sedikit lebih banyak tetapi kurang lebih sama dengan kehadirannya di film Danur.

Kekecewaan berikutnya adalah tidak berhasilnya film ini menciptakan ketegangan meskipun sebenarnya seperti yang sudah di katakan sebelumnya, production value-nya sudah sangat baik ditambah dengan kenyataan bahwa film ini memang  bermaksud untuk tampil sedikit berbeda dengan film-film horror lain yang belakangan ini dirilis dimana konsep horror yang otentik dan mengembalikan film horror bercita rasa ‘old’ sudah diupakayan. Alur nya yang terlampau lambat dan penampilan casts-nya yang meskipun tidak buruk namun gagal memberikan kesan yang mampu membuat penonton bersimpati akan karakter mereka masing-masing. Alhasil film ini juga berakhir kurang mengesankan dan seolah hanya memenuhi potensinya untuk dibuat menjadi sebuah film yang akan meraup keuntungan finansial. Sayang sekali mengingat niat film ini untuk tampil baik rasanya sudah terlihat dan cukup meyakinkan.

Crazy Rich Asians: Kisah Manis dan Bersahaja

Crazy_Rich_Asians_poster

“It was never my job to make you feel like a man. I can’t make you something you’re not.” – Astrid

451

Cast: Constance Wu, Henry Golding, Gemma Chan, Michelle Yeoh, Awkwafina, Harry Shum, Harry Shum Jr., Ken Jeong, Lisa Lu, Sonoya Mizuno, Chris Pang, Jimmy O Yang / Director: Jon M. Chu / Genre: Comedy, Romance / Runtime: 119 minutes

Sepasang anak muda yang saling jatuh cinta dimana salah satunya terlahir dari keluarga kaya dan satunya lagi berasal dari keluarga yang lebih sederhana harus menghadapi beragam rintangan karena perbedaan kasta. Tidak peduli sesulit apapun halangan dan sebanyak orang yang tidak setuju hingga mencibir, keduanya akan selalu menemukan cara untuk kemudian bersatu di akhir cerita. Kisah drama percintaan dengan plot demikian tentunya akan dengan mudah ditebak kemana arahnya. Tidak hanya film bioskop, rasanya film televisi pun sudah sangat sering mengangkat kisah dengan plot serupa. Berbicara tentang film, formula ‘cinderella story’ sendiri sudah tidak terhitung jumlahnya. Terkadang membosankan memang dikarenakan usangnya kisah yang diangkat seringkali tidak diikuti dengan eksekusi yang baik sehingga film hanya akan berakhir buruk.

crazy_rich_asians1.0Diangkat dari novel mega best-seller karya Kevin Kwan, film ini mendapat sorotan besar atas keberhasilannya meraup jumlah penonton fantastis di Amerika Serikat. Bagaimana tidak, diminggu pertamanya saja, film ini sudah berhasil meraup 35 juta US Dollar dari budget produksinya 30 juta US Dollar. Angka tersebut hanya untuk wilayah Amerika, belum jumlah secara globalnya. Lalu apa yang istimewa dengan film ini?

Layaknya cinderella story pada umumnya, Crazy Rich Asians bercerita tentang Rachel Chu (Constance Wu), seorang professor muda yang lahir dan tinggal New York harus mengunjungi kampung halaman  kekasihnya Nick Young (Henry Golding) di Singapura. Tidak mengetahui siapa sebenarnya kekasihnya, Rachel mau tidak mau bersiap untuk menghadapi kenyataan bahwa Nick berasal dari keluarga kaya raya. Tidak hanya harus menyesuaikan kelas dan gaya hidup, Rachel juga harus menghadapi Eleanor (Michelle Yeoh), Ibu Nick yang sangat mementingkan prestis dan ingin putranya menikah dengan wanita dari dengan strata kehidupan yang sama. Belum lagi kenyataan bahwa penolakan itu tidak hanya datang dari sang calon mertua. Mampukah Rachel dan Nick melalui semua rintangan tersebut?

la-1534269907-vkqoy4bpud-snap-imageSatu lagi film yang berhasil membuktikan bahwa tidak peduli seusang apapun sebuah materi jika mendapat eksekusi tepat maka film tersebut akan tetap mampu tampil memikat. Crazy Rich Asians secara konsisten memberikan kejutan demi kejutan disetiap menit kisah bergulir. Dari awal, artistiknya sudah mencuri perhatian. Seolah mendapat treat yang begitu tepat tanpa pernah berlebihan, film ini sukses memanjakan mata dan memenuhi ekspektasi penontonnya. Tidak mengherankan jika sepanjang film akan sering terdengar reaksi penonton yang secara refleks mengucapkan kalimat “wow..”,“bagus banget” dan reaksi kagum lainnya akan film ini. Dialog nya juga bukan dialog-dialog super cheesy yang sering ditemui di film-film drama serupa membuktikan bahwa naskahnya dikerjakan dengan baik dan juga tepat. Subplot-subplot yang dihadirkan mampu memperkuat filmnya secara utuh tanpa perlu menciderai plot utama.

 

Keberhasilan film ini tentu tidak lepas dari kuatnya departemen akting. Constance Wu yang memerankan Rachel mampu memberikan presentasi terbaik sebagai tokoh utama. Emosi yang dihadirkannya tidak pernah benar-benar berlebihan sehingga mampu membuat penonton bersimpati akan karakter yang seolah-olah memang dibuat khusus untuk diperankan olehnya. Gemma Chan juga mampu memberikan penampilan yang sangat apik. Siapa yang tidak ikut merasakan haru dan sesak ketika kisah Astrid dan keluarganya bergulir? Sang aktor utama, Henry Golding mungkin terasa sedikit kaku namun pesonanya yang luar biasa tentu tidak dapat dipungkiri mampu menjadi magnet besar dari film ini. Michelle Yeoh? Jangan ditanya. Sosok Eleanor ditangannya sangatlah dingin dan misterius. Performa aktor dan aktris pendukung lainnya pun tidak kalah mumpuni. Selain naskah yang baik tadi, ensemble cast yang solid-lah yang sesungguhnya mampu menambah kualitas film ini dari sekedar pertunjukan gemerlap kehidupan Young Family dengan latar Singapura yang memang ditampilkan sangat luar biasa.

CRA-08100Crazy Rich Asians bukan sekedar kisah tentang mewujudkan mimpi. Film ini menceritakan kegigihan dan keyakinan atas sebuah perjuangan untuk cinta. Bringing us so much joy, bertutur dengan begitu indah, memotivasi tanpa berusaha menggurui dan berakhir haru dan amat mengesankan. Ketika harapan seakan tiada, menyerah bukanlah jawabannya. Sulit sekali mendapat pengalaman dan kepuasan menonton seperti ini apalagi mendapatkan dua kesan secara bersamaan yakni manis dan bersahaja. Akhir kata, film ini memang se-kaya judulnya. Siapa yang tidak sabar menantikan China Rich Girlfriend & Rich People Problems?

Film Indonesia Lebaran 2018: Yang Mana Yang Paling Berkesan?

709682_720

Perilisan film Indonesia di momen lebaran memang selalu menjadi hal yang menarik untuk diikuti setidaknya bagi para pecinta film Indonesia. Selain menjadi salah satu momen dimana biasanya orang-orang terkhususnya keluarga akan berbondong-bondong datang ke bioskop, libur lebaran juga bisa dikatakan momen panennya film Indonesia. Didominasinya layar bioskop oleh film-film karya anak bangsa seakan menjadikan Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri setidaknya untuk waktu 1 hingga 2 bulan. Yang menarik diikuti tentu persaingan film-film tersebut dari segi marketing dalam mempromosikan film masing-masing, kemudian menentukan film mana yang akan ditonton terlebih dahulu (atau mungkin satu-satunya?) dan film mana yang pada akhirnya dikatakan sukses dengan perolehan penonton tertinggi di ‘masa panen’ tersebut. Jika tahun lalu Indonesia disuguhkan 4 film lebaran yang terdiri dari: Insya Allah Sah (MD Entertainment), Sweet 20 (Starvision Plus), Jailangkung (Screenplay Films) & Surat Kecil Untuk Tuhan (Falcon Pictures), maka tahun ini angkanya bertambah menjadi 5 film dengan judul-judul: Insya Allah Sah 2 (MD Entertainment), Jailangkung 2 (Screenplay Films), Target (Soraya Intercine Films), Kuntilanak (MVP Pictures) & Dimsum Martabak (RA Pictures). Dengan banyak dan beragamnya film Indonesia lebaran yang disuguhkan tahun ini, tentu penonton akan menemui kebingungan, mau nonton yang mana?

Sayangnya, harus diakui bahwa kualitas film Indonesia lebaran tahun ini mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan tahun lalu. Di tahun 2017 ada Sweet 20 yang menempati posisi pertama untuk kategori ‘terbaik’ versi Cinemaylo. Sebuah drama komedi yang manis karya Ody C Harahap yang kisahnya merupakan adaptasi dari film laris asal Korea, Miss Granny. Sweet 20 tidak hanya menghibur namun juga memiliki kualitas yang sangat baik jika dinilai dari berbagai aspek. Disamping itu, komedi Insya Allah Sah yang dibintangi Titi Kamal pun tampil menghibur sesuai dengan tujuan filmnya dibuat. Kemudian ada Surat Kecil Untuk Tuhan yang meskipun terasa cukup berat namun tidak dapat dikatakan buruk. Jailangkung mungkin menjadi satu-satunya film yang tampil mengecewakan tahun lalu. Beruntungnya film tersebut justru menjadi yang teratas dalam Raihan penonton dengan total kurang lebih 2,5 juta penonton. Tidak mengherankan jika sekuelnya pun dengan mudah ditebak kemunculannya. Lalu, jika menilai kelima film Indonesia lebaran tahun ini, manakah yang terbaik menurut Cinemaylo?

 

dimsjumDIMSUM MARTABAK (RA Pictures)

Cast: Ayu Ting Ting, Boy William, Denira Wiraguna, Muhadkly Acho, Olga Lidya, Ferry Salim, Mariam Bellina, Chew Kin Wah, Magdalena, Tyas Mirasih.

Director: Andreas Sullivan

Genre: Drama

Runtime: 98 minutes

3cinemaylo1141

Sejujurnya Cinemaylo memang tidak berekspektasi apa-apa dengan film ini. RA Pictures terhitung baru dalam industri perfilman namun trailer filmnya yang dirilis akhir bulan April cukup membuat penasaran. Dapat terlihat upaya dari rumah produksi milik Raffi Ahmad ini untuk dapat menyuguhkan film yang layak disebut sebagai ‘film layar lebar’. Surprisingly, meskipun di beberapa tempat belum dapat terhindar dari ‘unsur drama cheesy-nya’ namun film ini cukup menarik untuk disimak. Plotnya yang membahas tentang foodtruck cukup knowledgeable meskipun memang rasanya masih bisa untuk lebih diangkat. Performa dari castnya pun tidak mengecewakan khususnya Ayu Ting Ting yang memulai debutnya dengan cukup pantas. Terasa manis dibeberapa scene, Dimsum Martabak secara keseluruhan adalah film yang layak tonton dan menjadi salah satu rekomendasi dari kelima film yang rilis. Jut put your expectation low and you’ll enjoy it!

 

DdJrgnLU0AANR6SKUNTILANAK (MVP Pictures)

Cast: Sandrinna M Skornicki, Andryan Bima, Ciara Nadine Brosnan, Adlu Fahrezy, Ali Fikry, Aurelie Moeremans, Fero Walandouw, Nena Rosier, Naufal Ho.

Director: Rizal Mantovani

Genre: Horror

Runtime: 105 minutes

3cinemaylo1141

Kuntilanak sejatinya bukanlah sebuah materi baru. Kuntilanak pernah hadir di tahun 2006 lewat sutradara yang sama dengan bintang utama Julie Estelle. Kala itu, film rilisan MVP Pictures tersebut berhasil menuai kesuksesan dan tanggapan positif yang menjadikan sekuelnya dirilis hingga menjadi trilogi. Tahun ini dengan pertimbangan mengangkat kembali potensi kisah hantu berambut berkuku panjang ini, MVP Pictures kembali membuat film dengan judul serupa tanpa embel-embel ‘reborn’ atau kata lain yang memperjelas bahwa ini adalah versi baru dari kisah Kuntilanak. Dengan bintang-bintang baru namun masih dengan the winning team, Kuntilanak mencoba peruntungannya di momen libur lebaran. Hasilnya? Cukup berhasil. Meskipun tidak dapat dikategorikan sangat baik namun presentasi film ini cukup memikat. Jika Kuntilanak terdahulu sudah cukup ikonik dengan karakter Samantha, maka tahun ini tergantikan dengan sosok anak-anak kecil yang cukup mampu mencuri perhatian. Film ini pun tidak lupa menyisipkan kisah tentang Mangkudjiwo dimana disalah satu scene, karakter Samatha pun masih sempat dalam filmnya. Sayang dibeberapa bagian terasa tidak masuk akal misalnya rumah berhantu yang terlalu cepat usangnya hanya dalam waktu 4 bulan. Pun begitu tugasnya sebagai film horror dapat diselesaikan dengan baik. Beberapa jumpscare terbukti masih bekerja. Not a outstanding horror movie, but it’s worth it to watch.

 

152523462178640_300x430INSYA ALLAH SAH 2 (MD Pictures)

Cast: Pandji Pragiwaksono, Donny Alamsyah, Luna Maya, Miller Khan, Nirina Zubir, Tanta Ginting, Ray Sahetapy, Meriam Bellina, Hengky Solaiman, Inggrid Widjanarko.

Director: Anggy Umbara & Bounty Umbara

Genre: Drama, Comedy

Runtime: 91 minutes

3cinemaylo1141

Nah, inilah salah satu film yang berangkat dari kesuksesan tahun lalu. Insya Allah Sah yang sebelumnya dibesut oleh Benni Setiawan dapat dikatakan berhasil dengan raupan 830.000 penonton. Tidak sefantastis Jailangkung memang namun raihan tersebut sudah cukup menjadi alasan mengapa sekuelnya perlu dibuat. Masih dengan karakter utama Raka yang diperankan Pandji, kini departemen akting diperkuat dengan kehadiran Donny Alamsyah & Luna Maya. Jika membandingkan dengan Insya Allah Sah 1, kali ini mungkin gelaran komedinya tidak begitu berlimpah namun aksi dan eksekusinya secara keseluruhan terasa lebih rapi. Hadirnya sekuel ini rasanya juga telah memperkuat formula karakter Raka yang mungkin jika kembali menuai sukses akan dihadirkan lagi sebagai karakter polos namun pembawa berkah bagi orang-orang yang ditemuinya. Still worth it to watch!

 

DbT-DAeUwAEhFxVTARGET (Soraya Intercine Films)

Cast: Raditya Dika, Cinta Laura, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Romy Rafael, Anggika Bolsterli.

Director: Raditya Dika

Genre: Comedy, Thriller

Runtime: 93 minutes.

15

Hanya dengan menonton trailer-nya saja, kita akan dengan mudah teringat dengan film Raditya Dika terdahulu yang berjudul Hangout (2016). Bagaimana tidak, plotnya terasa sangat mirip. Sekumpulan aktor dan aktris memerankan diri mereka sendiri datang ke sebuah tempat dengan undangan syuting film namun berakhir dengan aksi saling bunuh-membunuh. Ya, Hangout memang terhitung sukses dengan jumlah penonton 2,6 juta penonton. Namun apakah itu dapat menjadi alasan yang cukup untuk kembali membuat film dengan plot sangat mirip namun dengan cast-cast baru? Alih-alih disuguhkan aksi demi aksi yang lebih menghibur, semua yang dihadirkan dalam film ini terasa sangat kosong dan tidak berkesan sama sekali. Target tidak lebih lucu dari Hangout, tidak lebih seru dan yang paling penting tidak lebih beralasan untuk ditonton. Sangat disayangkan melihat potensinya sendiri terlihat cukup besar dimana kesalahan yang dahulu terdapat dalam Hangout mungkin dapat dibayar lunas oleh Raditya Dika melalui film ini. Kita juga tahu bahwa Soraya Intercine Films sendiri selalu memiliki production value yang baik, namun lagi-lagi film ini gagal tampil mengesankan.

 

Jailangkung-2JAILANGKUNG 2 (Sky Media & Legacy Pictures)

Cast: Amanda Rawles, Jefri Nichol, Hannah Al Rasyid, Lukman Sardi, Naufal Samudra, Deddy Sutomo

Director: Jose Poernomo & Rizal Mantovani

Genre: Horror

Runtime: 83 minutes

1

Memang sering ditemui kasus dimana yang berkualitas akan kalah dengan yang lebih komersil. Sekali lagi terbukti melalui film garapan dua sutradara yang menjadi langganan film horror, Jose Poernomo & Rizal Mantovani. Seolah melanjutkan pencapaian sebelumnya, secara keseluruhan menurut Cinemaylo, Jailangkung 2 adalah film terburuk untuk lebaran tahun ini dan sampai tulisan ini diposting, film ini juga menjadi yang terlaris secara hitungan jumlah penonton. Sepanjang menyaksikan film ini, rasanya sulit ditemukan alasan mengapa film ini harus benar-benar dibuat dan ditonton selain tentunya dalam rangka meraup keuntungan semata. Bagi yang berekspektasi lebih dengan melihat trailer dan production value-nya yang terkesan menjanjikan, siap-siap untuk kembali kecewa dengan film ini. Padahal adegan awal yang dihadirkan terasa cukup menjanjikan namun lama kelaman Jailangkung 2 bergulir lebih nyeleneh dari yang terdahulu, tidak dapat ditemukan esensi filmnya seolah Jailangkung hanyalah sebuah judul film yang menarik namun hampir tidak memiliki korelasi dengan filmnya secara keseluruhan. Okay, mari kesampingkan hal-hal tersebut dan fokus dengan tugas utamanya film dengan label horror. Apakah film ini menyeramkan? Tidak sama sekali. Menegangkan? Tidak sama sekali. Lalu adakah alasan lain untuk menonton film ini selain dengan alasan penasaran? Juga tidak sama sekali. Untuk satu kali lagi, this movie a big disappointment.

So, that’s our review for this year Lebaran movie. Kalau versi kamu, bagaimana?

Hoax: Tipuan Yang Mengasyikkan

poster-hoax

“Apa yang bisa Mama lakukan supaya Ade betul-betul percaya, ini benar-benar Mama. Mama Asli.” – Mama

208D8B00-5AC6-4315-BA59-EE828FFB5C57

Cast: Vino G Bastian, Tora Sudiro, Tara Basro, Jajang C Noer, Landung Simatupang, Aulia Sarah, Permata Sari Harahap / Director: Ifa Isfansyah / Genre: Drama, Thriller, Mistery / Runtime: 80 minutes

Pertama kali melihat kemunculan film berjudul Hoax, mungkin tidak sedikit yang bertanya film apa ini? Judulnya kekinian sekali, sangat pas dengan era sekarang dimana berita baik atau cenderung buruk dengan mudah tersebar seiring semakin mudah dan berpengaruhnya media sosial di akses. Tingkat kebenaran sebuah berita instan tentu tidak terhindar dari istilah hoax dikarenakan tuntutan perkembangan dunia digital yang teramat cepat. Tetapi film ini tentu bukan tentang itu. Setelah ditelisik, Film ini rupanya memang bukan projek baru, wajar gaung dan promosinya hampir-hampir tidak terdengar. Pun begitu, ada nama sutradara peraih piala citra dibaliknya, Ifa Isfansyah yang pernah menelurkan karya apiknya salah satunya berjudul Sang Penari. Selain Ifa, sederet aktor lintas generasi seperti Vino G. Bastian, peraih citra aktris terbaik Tara Basro, Tora Sudiro, Aulia Sarah, Jajang C. Noer serta Landung Simatupang berada di jajaran casts. Filmnya sendiri berjudul awal Rumah dan Musim Hujan adalah film yang dibuat tahun 2012 namun belum sempat dirilis secara komersil. Setelah melakukan screening dibeberapa festival baik luar maupun dalam, akhirnya dengan momen yang dirasa pas oleh pihak rumah produksi Indy Pictures, film ini kemudian dirilis dengan judul baru.

Rumah-dan-Musim-Hujan-openingBercerita tentang kisah kehidupan tiga kakak-beradik, Ragil (Vino G. Bastin), Raga (Tora Sudiro) dan Ade (Tara Basro) yang datang dari sebuah keluarga yang tengah mengalami proses perceraian. Ibunya (Jajang C. Noer) kini tidak tinggal lagi dirumah mereka. Pada suatu hari, mereka berkumpul lagi dirumah Bapak (Landung Simatupang). Selepas makan malam tersebut, Raga dan Adek yang sudah tidak tinggal bersama Ragil dan Bapak kembali kerumah masing-masing. Satu persatu rahasia dari mereka terkuak. Ragil berusaha menutupi sebuah rahasia besar dari keluarganya, Raga tengah dihadapkan persoalan dengan kekasihnya, Sukma (Aulia Sarah) dan Adek yang mengalami kejadian mencekam dirumah kontrakannya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Memiliki konflik terpisah, film ini punya tingkat keseruan yang sebenarnya cukup tinggi untuk diikuti. Sesekali memang terasa seperti sebuah omnibus, formula yang beberapa tahun lalu ramai-ramai dibuat oleh sineas-sineas film Indonesia. Karakter-karakter utama muncul dengan permasalahan yang berbeda-berbeda namun masih memiliki benang merah. Film ini menawarkan beberapa genre dimana nuansa drama, misteri dan thriller yang kuat secara sekaligus dapat dirasakan oleh penonton. Tentu hal yang sangat menarik. Sayangnya, dikarenakan telah melewati proses perombakan yang cukup banyak editingnya terasa kurang mulus dibeberapa bagian. Menurut infonya sendiri awalnya setiap cerita memang dibuat terpisah, dimana satu kisah selesai kemudian dilanjutkan dengan kisah dari karakter berikutnya. Melihat kenyataan bahwa filmnya dirilis 6 tahun dari jadwal awal dan dirasa perlu mendapat penyesuaian akhirnya dilakukan perubahan pada susunan gambar. Belum lagi urusan sensor yang membuat tidak hanya durasinya menjadi sedemikian singkat namun juga eksplorasi kisah dari salah satu karakternya tidak mendapat porsi yang seimbang.

hoax-coverLantas apakah film ini berakhir buruk begitu saja? Tentunya tidak sama sekali. Hoax punya plot unik yang meskipun tidak baru, bisa dikatakan masih sangat jarang diangkat sebelumnya. Mengangkat sesuatu yang terasa baru, Ifa dengan lihai secara intens mengajak penonton untuk terus menebak apa sebenarnya yang terjadi terhadap karakter-karakter didalam filmnya. Nilai plus lainnya adalah penampilan cemerlang dari para cast-nya. Vino, Tara dan Tora yang memerankan tiga karakter utama dalam film ini berhasil memberikan presentasi yang baik untuk masing-masing karakter. Begitupun Landung Simatupang yang tampil apik lewat perannya sebagai Bapak. Sarah Aulia cukup mencuri perhatian meski hanya berada dibarisan pendukung. Namun jika ada juara dalam film ini maka aktris senior berbakat, Jajang C. Noer lah adalah pemenangnya. Sosok ibu yang misterius berkali-kali mengecoh penonton yang sudah terlanjur dibuat simpati dan peduli akan karakternya.

Satu hal lain yang semakin memperkokoh filmnya adalah naskah yang baik. Filmnya bergulir realistis lewat hadirnya premis dan dialog-dialog keseharian yang terasa begitu dekat dengan penonton. Sesekali mengundang tawa namun menit-menit berikutnya akan menimbulkan banyak ketegangan dan tanda tanya besar. Ini adalah sebuah alternatif yang sangat mujarab bagi penonton yang belakangan ini hanya disuguhkan film-film komersil yang tentu mudah ditebak jalan dan akhir ceritanya.

Screen-Shot-2018-01-12-at-16.27.35-640x269Hoax memang bukan film yang umumnya akan mudah dimengerti apalagi disukai khususnya penonton awam. Mungkin akan banyak menimbulkan pertanyaan namun justru itu istimewanya. Sebuah film tidak hanya dapat ditonton namun juga didiskusikan. Yang pasti lewat makna sederhana yang terkandung didalamnya tentang mitos, sebuah kejujuran dan kepercayaan, film ini dapat menunjukkan kelasnya. Ibarat makanan, sudah bosan dengan menu-menu yang itu-itu saja, ini adalah suguhan lain yang perlu untuk dicicipi. Karena sesekali diajak berpikir memang perlu, agar semuanya menjadi lebih seimbang.

Dilan 1990: Suguhan Manis Dari Novel Laris

“Milea, kamu cantik tapi aku belum mencintaimu, ga tau kalau sore, tunggu aja” – Dilan

208D8B00-5AC6-4315-BA59-EE828FFB5C57

Cast: Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, Yoriko Angeline, Brandon Salim, Debo Andryos Aryanto, Zulfa Maharani, Giulio Parengkuhan, Refal Hadi, Ria Irawan, Happy Salma / Director: Fajar Bustomi & Pidi Baiq / Genre: Drama, Romance / Runtime: 115 minutes

Fenomenal dan dicintai pembacanya, dua kata yang setidaknya mampu menggambarkan kesuksesan Dilan, novel teenlit yang pertama kali diterbitkan pada bulan April 2014. Ditengah menurunnya penjualan buku laris karya penulis fiksi lokal, novel karya Pidi Baiq tersebut seakan membawa angin segar dalam kiprah perbukuan nasional. Tidak membutuhkan waktu yang lama, novel berdasarkan kisah nyata tersebut di cetak berkali-kali dan semakin populer dimana-mana. Tidak sedikit dari fans novelnya berharap kisah Dilan diangkat ke layar lebar. Sempat mengkonfirmasi bahwa novelnya tidak akan dibuatkan filmnya, adalah Max Pictures, rumah produksi yang berhasil membeli hak ciptanya untuk dibuatkan versi filmnya yang rilis diawal tahun ini.

C7103EF4-9D10-425A-96A4-B72CB83D1F8BMax Pictures yang masih merupakan bagian dari Falcon Pictures memang nampaknya semakin jeli dalam memilih materi filmnya. Setelah suksesnya Warkop DKI Reborn dan Comic 8, kini giliran Dilan yang dilirik. Falcon Pictures sendiri dapat dikatakan semakin serius dalam menggarap proyek-proyeknya Begitupun dengan Dilan yang mendapat treatment istimewa. Pengumuman siapa saja casts terpilih yang dilakukan pertengahan tahun lalu diwarnai pro dan kontra dari para fanatik novelnya. Yang paling menjadi highlight adalah sosok Dilan yang jatuh ke tangan mantan personel grup vokal CJR, Iqbaal mendapat kontra yang cukup banyak. Kala itu tidak sedikit yang memprediksi filmnya akan gagal karena karakter utama diperankan aktor yang dianggap ‘kurang mewakili’ apa yang menjadi imajinasi banyak orang selama ini. Lalu benarkah hasilnya tidak maksimal?

Milea (Vanesha Prescilla) adalah anak baru pindahan dari Jakarta sedangkan Dilan (Iqbaal Ramadhan) adalah siswa yang terkenal sering tawuran namun baik hati. Mereka bertemu di tahun 1990 disebuah SMA di Bandung dengan perkenalan yang tidak biasa. Dilan yang unik dan romantis dengan cepatnya masuk kedalam kehidupan Milea. Dilan meramal suatu hari nanti Milea akan menjadi pacarnya. Hal tersebut tidak berjalan mulus begitu saja mengingat Milea sudah memiliki kekasih di Jakarta bernama Beni (Brandon Salim). Perjalanan cinta mereka yang diwarnai berbagai konflik tidak menggetarkan keduanya yang mulai saling rindu, melengkapi dan membutuhkan satu sama lain.

Apa yang membuat Dilan begitu istimewa? Rupanya bahasanya yang dikemas ringan, puitis dan senantiasa mengundang tawa adalah kekuatan dari novelnya. Menerjemahkan novel menjadi sebuah film memang bukan pekerjaan yang mudah. Tidak jarang berakhir mengecewakan. Meskipun memiliki materi sederhana tidak lantas membuat pekerjaan Fajar Bustomi & Pidi Baiq sendiri selaku penulis novel sekaligus sutradara menjadi mudah. Beberapa faktor tentu menjadi sangat penting perannya dalam pengangkatan cerita yang mengambil latar Bandung ini. Sebagai orang yang belum pernah membaca novelnya, rasanya pemilihan casts tergolong tepat. Iqbaal yang banyak diragukan mampu membuktikan bahwa pilihan kreator dibalik film ini tidak salah. Tanpa kelihatan ragu sama sekali, Dilan diperankan dengan sangat baik olehnya. Karakter Dilan yang cuek, berani dan pemberontak namun rajin mengucapkan kata-kata puitis berhasil diwujudkannya dengan cukup sempurna. Begitupun Milea (Vanesha Prescilla) dimana chemistry-nya dengan Panglima Tempur mampu dirasakan oleh siapapun yang menyaksikannya.

9CA6B81C-0FF1-4222-B916-9266B3A03C7DDilan 1990 beruntungnya tidak pernah benar-benar menjadi kisah percintaan yang di dramatisir disana-sini. Dialog-dialog ringan yang sesekali terdengar kaku mampu termaafkan. Beberapa karakter terasa amat tipikal namun konfliknya yang tidak begitu beragam justru membuat film terasa semakin realistis, dimana sudah barang tentu hal tersebut adalah poin positif. Fajar & Pidi secara konsisten mampu membuat perasaan penontonnya menjadi campur aduk dan terbawa kedalam kisahnya sehingga penonton juga dibuat peduli akan karakter-karakternya. Jika sudah sampai pada level tersebut, sebuah adaptasi rasanya dapat dikatakan berhasil.

Keputusan pihak studio untuk mengangkat Dilan ke layar lebar nampaknya adalah sebuah keputusan yang tepat. Dengan pencapaian demikian, Dilan tidak hanya menjadi proyek yang dibuat atas alasan keuntungan semata tetapi juga menjadi jawaban atas permintaan fans yang sudah lama ingin kisah Dilan difilmkan. Bersiaplah meleleh melalui kisah cinta sederhana yang. Jangan skeptis dulu sebelum benar-benar menyaksikannya karena Dilan bisa saja mengembalikan ketidakpercayaan masyarakat akan film drama Indonesia yang dianggap akan selalu berakhir ‘menye-menye’. Pada akhirnya para pembacanya lah yang berhak menilai lebih dalam apakah adaptasinya berhasil atau tidak. Terlepas dari puas atau tidak puas jika berdiri sendiri sebagai sebuah film, ini adalah film yang sederhana, manis dan cukup memikat.

Nominasi Academy Awards 2018: Shape of Water Memimpin, Oscar #NotSoWhite Tahun Ini

oscar-nominations-2018Pagelaran Academy Awards yang tahun ini memasuki tahun ke 90 akhirnya mengumumkan para nominatornya kemarin malam live dari The Samuel Goldwyn Theater in Beverly Hills, California. Sineas-sineas yang sebelumnya sudah berjaya di ajang perfilman seperti Golden Globe Awards, SAG Awards dan beberapa ajang lainnya juga muncul mengisi jajaran nominasi Oscars 2018 sebut saja Guillermo Del Toro (Directing), Frances McDormand (Leading Actress), Gary Oldman (Leading Actor), Saiorse Ronan dan lainnya. Nominasi terbanyak diraih film Shape of Water dengan jumlah 13 nominasi sedangkan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri yang memenangkan kategori Film Terbaik dalam dua ajang besar meraih total 7 nominasi. Dibalik nama yang sudah dengan diprediksi akan meraih nominasi tentu bukan Oscar namanya jika tanpa kejutan. Mulai dari James Franco (The Disaster Artist), Michelle Williams (All The Money In The World) hingga film Wonder Woman yang dianggap unggul di kategori teknis tidak mendapat apresiasi dari Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) sedangkan Daniel Kaluuya melalui debutnya, Get Out berhasil mendapat nominasi. Hugh Jackman juga aktor lain yang tidak berhasil masuk sebagai salah satu nominator atas peran apiknya dalam The Greatest Showman. Beruntung This Is Me tidak serta merta hilang dari daftar nominasi. Akankah tahun ini Academy Awards  mencetak kuda hitam yang akan membawa pulang piala Oscar tanpa diprediksi sebelumnya?

Berikut nominasi lengkapnya!

Best Picture:

“Call Me by Your Name”
“Darkest Hour”
“Dunkirk”
“Get Out”
“Lady Bird”
“Phantom Thread”
“The Post”
“The Shape of Water”
“Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”

Lead Actor:

Timothée Chalamet, “Call Me by Your Name”
Daniel Day-Lewis, “Phantom Thread”
Daniel Kaluuya, “Get Out”
Gary Oldman, “Darkest Hour”
Denzel Washington, “Roman J. Israel, Esq.”

Lead Actress:

Sally Hawkins, “The Shape of Water”
Frances McDormand, “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”
Margot Robbie, “I, Tonya”
Saoirse Ronan, “Lady Bird”
Meryl Streep, “The Post”

Supporting Actor:

Willem Dafoe, “The Florida Project”
Woody Harrelson, “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”
Richard Jenkins, “The Shape of Water”
Christopher Plummer, “All the Money in the World”
Sam Rockwell, “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”

Supporting Actress:

Mary J. Blige, “Mudbound”
Allison Janney, “I, Tonya”
Lesley Manville, “Phantom Thread”
Laurie Metcalf, “Lady Bird”
Octavia Spencer, “The Shape of Water”

Director:

“Dunkirk,” Christopher Nolan
“Get Out,” Jordan Peele
“Lady Bird,” Greta Gerwig
“Phantom Thread,” Paul Thomas Anderson
“The Shape of Water,” Guillermo del Toro

Animated Feature:

“The Boss Baby,” Tom McGrath, Ramsey Ann Naito
“The Breadwinner,” Nora Twomey, Anthony Leo
“Coco,” Lee Unkrich, Darla K. Anderson
“Ferdinand,” Carlos Saldanha
“Loving Vincent,” Dorota Kobiela, Hugh Welchman, Sean Bobbitt, Ivan Mactaggart, Hugh Welchman

Animated Short:

“Dear Basketball,” Glen Keane, Kobe Bryant
“Garden Party,” Victor Caire, Gabriel Grapperon
“Lou,” Dave Mullins, Dana Murray
“Negative Space,” Max Porter, Ru Kuwahata
“Revolting Rhymes,” Jakob Schuh, Jan Lachauer

Adapted Screenplay:

“Call Me by Your Name,” James Ivory
“The Disaster Artist,” Scott Neustadter & Michael H. Weber
“Logan,” Scott Frank & James Mangold and Michael Green
“Molly’s Game,” Aaron Sorkin
“Mudbound,” Virgil Williams and Dee Rees

Original Screenplay:

“The Big Sick,” Emily V. Gordon & Kumail Nanjiani
“Get Out,” Jordan Peele
“Lady Bird,” Greta Gerwig
“The Shape of Water,” Guillermo del Toro, Vanessa Taylor
“Three Billboards Outside Ebbing, Missouri,” Martin McDonagh

Cinematography:

“Blade Runner 2049,” Roger Deakins
“Darkest Hour,” Bruno Delbonnel
“Dunkirk,” Hoyte van Hoytema
“Mudbound,” Rachel Morrison
“The Shape of Water,” Dan Laustsen

Best Documentary Feature:

Best Documentary Short Subject:

“Edith+Eddie,” Laura Checkoway, Thomas Lee Wright
“Heaven is a Traffic Jam on the 405,” Frank Stiefel
“Heroin(e),” Elaine McMillion Sheldon, Kerrin Sheldon
“Knife Skills,” Thomas Lennon
“Traffic Stop,” Kate Davis, David Heilbroner

Best Live Action Short Film:

“DeKalb Elementary,” Reed Van Dyk
“The Eleven O’Clock,” Derin Seale, Josh Lawson
“My Nephew Emmett,” Kevin Wilson, Jr.
“The Silent Child,” Chris Overton, Rachel Shenton
“Watu Wote/All of Us,” Katja Benrath, Tobias Rosen

Best Foreign Language Film:

“A Fantastic Woman” (Chile)
“The Insult” (Lebanon)
“Loveless” (Russia)
“On Body and Soul (Hungary)
“The Square” (Sweden)

Film Editing:

“Baby Driver,” Jonathan Amos, Paul Machliss
“Dunkirk,” Lee Smith
“I, Tonya,” Tatiana S. Riegel
“The Shape of Water,” Sidney Wolinsky
“Three Billboards Outside Ebbing, Missouri,” Jon Gregory

Sound Editing:

“Baby Driver,” Julian Slater
“Blade Runner 2049,” Mark Mangini, Theo Green
“Dunkirk,” Alex Gibson, Richard King
“The Shape of Water,” Nathan Robitaille, Nelson Ferreira
“Star Wars: The Last Jedi,” Ren Klyce, Matthew Wood

Sound Mixing:

“Baby Driver,” Mary H. Ellis, Julian Slater, Tim Cavagin
“Blade Runner 2049,” Mac Ruth, Ron Bartlett, Doug Hephill
“Dunkirk,” Mark Weingarten, Gregg Landaker, Gary A. Rizzo
“The Shape of Water,” Glen Gauthier, Christian Cooke, Brad Zoern
“Star Wars: The Last Jedi,” Stuart Wilson, Ren Klyce, David Parker, Michael Semanick

Production Design:

“Beauty and the Beast,” Sarah Greenwood; Katie Spencer
“Blade Runner 2049,” Dennis Gassner, Alessandra Querzola
“Darkest Hour,” Sarah Greenwood, Katie Spencer
“Dunkirk,” Nathan Crowley, Gary Fettis
“The Shape of Water,” Paul D. Austerberry, Jeffrey A. Melvin, Shane Vieau

Original Score:

“Dunkirk,” Hans Zimmer
“Phantom Thread,” Jonny Greenwood
“The Shape of Water,” Alexandre Desplat
“Star Wars: The Last Jedi,” John Williams
“Three Billboards Outside Ebbing, Missouri,” Carter Burwell

Original Song:

“Mighty River” from “Mudbound,” Mary J. Blige
“Mystery of Love” from “Call Me by Your Name,” Sufjan Stevens
“Remember Me” from “Coco,” Kristen Anderson-Lopez, Robert Lopez
“Stand Up for Something” from “Marshall,” Diane Warren, Common
“This Is Me” from “The Greatest Showman,” Benj Pasek, Justin Paul

Makeup and Hair:

“Darkest Hour,” Kazuhiro Tsuji, David Malinowski, Lucy Sibbick
“Victoria and Abdul,” Daniel Phillips and Lou Sheppard
“Wonder,” Arjen Tuiten

Costume Design:

“Beauty and the Beast,” Jacqueline Durran
“Darkest Hour,” Jacqueline Durran
“Phantom Thread,” Mark Bridges
“The Shape of Water,” Luis Sequeira
“Victoria and Abdul,” Consolata Boyle

Visual Effects: