A.X.L: Petualangan Minim Kesan

153484989977543_300x430

25112

“I don’t think it’s owner deserves to get him back” – Miles

Cast: Alex Neustaedter, Becky G, Thomas Jane, Alex MacNicoll, Lou Taylor Pucci, Ted McGinley / Director: Oliver Daly / Genre: Adventure, Sci-fi / Running time: 98 minutes.

Mungkin tidak banyak yang tahu tentang film ini. Jelas bukan tipe film kelas A yang diantisipasi banyak orang, film yang asalnya merupakan pengembangan cerita dari film pendek karya sang sutradara berjudul Miles ini adalah film sci-fi. Dari melihat trailernya, mungkin penonton dengan mudah menebak akan kemana arah alurnya, lantas masihkah A.X.L yang konsepnya sedikit mengingatkan kita dengan film-film berformula sejenis seperti Transformers ataupun yang terbaru Alpha ini termasuk film dengan kategori film yang ‘boleh di tonton tetapi jika di skip juga tidak masalah’? Suguhannya meskipun tidak baru tentu membuktikan pembuktian apakah benar tidak lebih dari sekedar sci-fi mainstream atau malah unpromising movie yang hasilnya ternyata jauh lebih baik dari ekspektasi?

imageFilm ini berkisah tentang perjalanan Miles (Alex Neustaedter) yang bercita-cita menjadi pembalap motor terbaik. Kehidupannya kemudian berubah setelah menemukan robot anjing dan mulai mencoba berinteraksi dengannya robot tersebut. A.X.L singkatan dari Attack, Exploration & Logistics adalah robot masa depan berjantung organik anjing hasil eskperimen pihak militer yang diciptakan untuk keperluan perang. Mengetahui bahewa temuannya itu bersifat berbahaya, Miles yang berniat mengamankan dan menyelamatkan sahabat barunya itu kemudian harus mengalami serangkaian petualangan menegangkan dikejar oleh pihak musuk yang menginginkan robot tersebut kembali. Dengan bantuan Sara (Becky G), Miles berusaha meyakinkan orang banyak bahwa sahabatnya bukanlah robot yang berbahaya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sebuah film yang mengangkat kisah yang terasa familiar dengan film-film rilisan sebelumnya. Toh, originalitas memang bukan menjadi penentu sebuah film akan berakhir bagus ataupun sebaliknya. Contohnya saja Crazy Rich Asians. Oh, come on.. siapa yang tidak setuju jika dikatakan bahwa plot film tersebut selain tidak menawarkan hal baru juga merupakan plot film drama yang terlampau usang dimana film dengan formula tersebut sudah sangat sering kita jumpai. Namun apa yang membuat film yang melambungkan nama Henry Golding tersebut tetap mampu tampil memikat dan bahkan meraih rating bagus di situs film dunia? Ada banyak faktor tentu, salah satunya adalah performa para cast-nya. Yang terpenting tentu eksekusi filmnya secara keseluruhan. Sayangnya, A.X.L gagal hampir di seluruh poin-poin penting. Secara individual, performa cast terasa kurang mumpuni. Hal tersebut berdampak pula pada chemistry antar pemain yang kurang believable. Otomatis emosi yang diharapkan dapat dihadirkan, tidak selalu berhasil tercipta.

AXL-clip-screenshot-600x302Eksekusi yang secara keseluruhan terasa tidak maksimal juga membuat A.X.L gagal menutupi kesalahan-kesalahan di part lain meskipun tidak dipungkiri bahwa kisah from zero to hero atau yang mengangkat sisi emosional antara manusia dengan hewan/robot selalu menarik untuk di tonton. Yang tersaji dalam 98 menit adalah adegan demi adegan klise yang tidak terlihat niat untuk diperbaharui sehingga terasa hanya mengulang-ulang format yang sama dari film sejenis. Tidak sampai berakhir sangat buruk, masih ada beberapa adegan yang cukup mampu membuat senyum tersungging, tapi jelas ini adalah film yang forgettable. Kembali ke pertanyaan awal, apakah film ini cukup di rekomendasikan? Ya, boleh ditonton namun di skip pun tidak masalah.

Asih: Spin-off Potensial Yang Kurang Berkesan

ASIH_REV21sept2018

“Dia sudah kesini, sejak malam kelahiran bayimu..”

22

Cast: Citra Kirana, Darius Sinathrya, Shareefa Daanish, Marini Soerjosoemarno, Alex Abbad, Djenar Maesa Ayu, Egi Fedly / Director: Awi Suryadi / Genre: Horror / Runtime: 78 minutes.

Sudah menjadi hal yang dapat diprediksi, ketika dalam sebuah film ada satu karakter pendukung yang mampu mencuri perhatian ditambah dengan pencapaian angka penonton yang bagus, maka spin-off kemungkinan besar akan terjadi. Di Hollywood sendiri tentu kita tahu bahwa kesuksesan The Conjuring dapat membuahkan Annabelle sebagai spin-off dan juga terjadi pada salah satu film teranyar tahun ini, The Nun yang menceritakan karakter Valak yang sempat ramai ketika The Conjuring 2 (2017) dirilis. Tidak membutuhkan waktu yang lama, pihak studio yang merilis film tersebut langsung mengkonfirmasi mengenai rencana pembuatan Valak sebagai sebuah film utuh. Hal tersebut pun terjadi dalam perfilman Indonesia. Yang terbaru adalah Asih, karakter pembantu yang mencuri perhatian lewat film Danur: I Can See Ghosts (2017) yang sukses besar meraup 2,5 juta penonton diikuti dengan Danur 2: Maddah yang hanya berselang 1 tahun.

ASIH-image-4Asih bercerita tentang sang karakter di 37 tahun sebelum peristiwa Danur. Asih (Shareefa Daanish) mengakhiri hidupnya setelah ia diusir dari rumah oleh kedua orangtuanya karena memiliki anak diluar pernikahan. Dianggap aib bagi kampungnya, anak Asih pun tidak diterima, hingga akhirnya peristiwa itupun terjadi. Ia bunuh diri setelah membunuh anaknya. Kepergiannya yang penuh amarah dan tidak tenang membawanya kembali. Asih lalu menganggu sebuah keluarga yang baru saja kelahiran seorang bayi. Sang Ibu (Citra Kirana) terus di teror hantu perempuan yang menginginkan anaknya. Suaminya (Darius Sinathrya) yang awalnya tidak percaya mau tidak mau mencari cara agar keluarganya terbebas dari gangguan hantu bunuh diri yang mengancam nyawa keluarganya.

Terciptanya film spin-off yang pertimbangannya sudah pasti berdasarkan potensi film pendahulunya pada kenyataannya selalu berakhir menggembirakan dimana raihan penonton dapat dipastikan akan bermain di angka yang bagus namun belum tentu dengan respon kritikus dan reviewer mengenai filmnya secara utuh. Apakah Asih termasuk salah satu yang akan sukses meraup untung diikuti dengan kesanggupannya tersaji sebagai sebuah film horror yang apik? Jawabannya adalah iya dan tidak. Iya, karena tentu secara potensi Asih dalam mencetak angka penonton yang bagus rasanya tetap sangat memungkinkan tapi tidak untuk tugasnya sebagai sebuah film horror. Mau tidak mau penonton akan membandingkannya dengan dua film sebelumnya (dan mungkin juga dengan film-film horror tahun ini yang semakin ramai di rilis). Meski harus diakui bahwa karya terbaru dari Awi Suryadi ini memiliki production value yang bagus (tata artistik, kamera dan suara yang baik) namun jika berdiri secara utuh film ini gagal dalam tugasnya ‘menciptakan suasana menegangkan’ atau ‘menakut-nakuti penontonnya’.

1534751274.488378 menit bergulir datar dan tanpa kesan, film ini jelas gagal dalam memenuhi ekspektasi penonton yang mengharapkan kisah karakter yang dimainkan Shareefa Daanish di tampilkan secara maksimal dalam satu film. Tidak masalah sebenarnya dengan hadirnya karakter-karakter baru yang diceritakan adalah sebuah keluarga tetapi rasanya porsi yang dihadirkan tidak cukup proporsional dimana meskipun asal usul Asih sempat dibahas di menit-menit awal dan akhir, keseluruhan film 80% berisi kisah keluarga baru tersebut. Merupakan sebuah kekecewaan bagi saya pribadi yang berekspektasi akan melihat sosok Shareefa Daanish sepanjang film. Di film ini, Asih tidak ubahnya seperti karakter pendukung dengan porsi yang sedikit lebih banyak tetapi kurang lebih sama dengan kehadirannya di film Danur.

Kekecewaan berikutnya adalah tidak berhasilnya film ini menciptakan ketegangan meskipun sebenarnya seperti yang sudah di katakan sebelumnya, production value-nya sudah sangat baik ditambah dengan kenyataan bahwa film ini memang  bermaksud untuk tampil sedikit berbeda dengan film-film horror lain yang belakangan ini dirilis dimana konsep horror yang otentik dan mengembalikan film horror bercita rasa ‘old’ sudah diupakayan. Alur nya yang terlampau lambat dan penampilan casts-nya yang meskipun tidak buruk namun gagal memberikan kesan yang mampu membuat penonton bersimpati akan karakter mereka masing-masing. Alhasil film ini juga berakhir kurang mengesankan dan seolah hanya memenuhi potensinya untuk dibuat menjadi sebuah film yang akan meraup keuntungan finansial. Sayang sekali mengingat niat film ini untuk tampil baik rasanya sudah terlihat dan cukup meyakinkan.

Crazy Rich Asians: Kisah Manis dan Bersahaja

Crazy_Rich_Asians_poster

“It was never my job to make you feel like a man. I can’t make you something you’re not.” – Astrid

451

Cast: Constance Wu, Henry Golding, Gemma Chan, Michelle Yeoh, Awkwafina, Harry Shum, Harry Shum Jr., Ken Jeong, Lisa Lu, Sonoya Mizuno, Chris Pang, Jimmy O Yang / Director: Jon M. Chu / Genre: Comedy, Romance / Runtime: 119 minutes

Sepasang anak muda yang saling jatuh cinta dimana salah satunya terlahir dari keluarga kaya dan satunya lagi berasal dari keluarga yang lebih sederhana harus menghadapi beragam rintangan karena perbedaan kasta. Tidak peduli sesulit apapun halangan dan sebanyak orang yang tidak setuju hingga mencibir, keduanya akan selalu menemukan cara untuk kemudian bersatu di akhir cerita. Kisah drama percintaan dengan plot demikian tentunya akan dengan mudah ditebak kemana arahnya. Tidak hanya film bioskop, rasanya film televisi pun sudah sangat sering mengangkat kisah dengan plot serupa. Berbicara tentang film, formula ‘cinderella story’ sendiri sudah tidak terhitung jumlahnya. Terkadang membosankan memang dikarenakan usangnya kisah yang diangkat seringkali tidak diikuti dengan eksekusi yang baik sehingga film hanya akan berakhir buruk.

crazy_rich_asians1.0Diangkat dari novel mega best-seller karya Kevin Kwan, film ini mendapat sorotan besar atas keberhasilannya meraup jumlah penonton fantastis di Amerika Serikat. Bagaimana tidak, diminggu pertamanya saja, film ini sudah berhasil meraup 35 juta US Dollar dari budget produksinya 30 juta US Dollar. Angka tersebut hanya untuk wilayah Amerika, belum jumlah secara globalnya. Lalu apa yang istimewa dengan film ini?

Layaknya cinderella story pada umumnya, Crazy Rich Asians bercerita tentang Rachel Chu (Constance Wu), seorang professor muda yang lahir dan tinggal New York harus mengunjungi kampung halaman  kekasihnya Nick Young (Henry Golding) di Singapura. Tidak mengetahui siapa sebenarnya kekasihnya, Rachel mau tidak mau bersiap untuk menghadapi kenyataan bahwa Nick berasal dari keluarga kaya raya. Tidak hanya harus menyesuaikan kelas dan gaya hidup, Rachel juga harus menghadapi Eleanor (Michelle Yeoh), Ibu Nick yang sangat mementingkan prestis dan ingin putranya menikah dengan wanita dari dengan strata kehidupan yang sama. Belum lagi kenyataan bahwa penolakan itu tidak hanya datang dari sang calon mertua. Mampukah Rachel dan Nick melalui semua rintangan tersebut?

la-1534269907-vkqoy4bpud-snap-imageSatu lagi film yang berhasil membuktikan bahwa tidak peduli seusang apapun sebuah materi jika mendapat eksekusi tepat maka film tersebut akan tetap mampu tampil memikat. Crazy Rich Asians secara konsisten memberikan kejutan demi kejutan disetiap menit kisah bergulir. Dari awal, artistiknya sudah mencuri perhatian. Seolah mendapat treat yang begitu tepat tanpa pernah berlebihan, film ini sukses memanjakan mata dan memenuhi ekspektasi penontonnya. Tidak mengherankan jika sepanjang film akan sering terdengar reaksi penonton yang secara refleks mengucapkan kalimat “wow..”,“bagus banget” dan reaksi kagum lainnya akan film ini. Dialog nya juga bukan dialog-dialog super cheesy yang sering ditemui di film-film drama serupa membuktikan bahwa naskahnya dikerjakan dengan baik dan juga tepat. Subplot-subplot yang dihadirkan mampu memperkuat filmnya secara utuh tanpa perlu menciderai plot utama.

 

Keberhasilan film ini tentu tidak lepas dari kuatnya departemen akting. Constance Wu yang memerankan Rachel mampu memberikan presentasi terbaik sebagai tokoh utama. Emosi yang dihadirkannya tidak pernah benar-benar berlebihan sehingga mampu membuat penonton bersimpati akan karakter yang seolah-olah memang dibuat khusus untuk diperankan olehnya. Gemma Chan juga mampu memberikan penampilan yang sangat apik. Siapa yang tidak ikut merasakan haru dan sesak ketika kisah Astrid dan keluarganya bergulir? Sang aktor utama, Henry Golding mungkin terasa sedikit kaku namun pesonanya yang luar biasa tentu tidak dapat dipungkiri mampu menjadi magnet besar dari film ini. Michelle Yeoh? Jangan ditanya. Sosok Eleanor ditangannya sangatlah dingin dan misterius. Performa aktor dan aktris pendukung lainnya pun tidak kalah mumpuni. Selain naskah yang baik tadi, ensemble cast yang solid-lah yang sesungguhnya mampu menambah kualitas film ini dari sekedar pertunjukan gemerlap kehidupan Young Family dengan latar Singapura yang memang ditampilkan sangat luar biasa.

CRA-08100Crazy Rich Asians bukan sekedar kisah tentang mewujudkan mimpi. Film ini menceritakan kegigihan dan keyakinan atas sebuah perjuangan untuk cinta. Bringing us so much joy, bertutur dengan begitu indah, memotivasi tanpa berusaha menggurui dan berakhir haru dan amat mengesankan. Ketika harapan seakan tiada, menyerah bukanlah jawabannya. Sulit sekali mendapat pengalaman dan kepuasan menonton seperti ini apalagi mendapatkan dua kesan secara bersamaan yakni manis dan bersahaja. Akhir kata, film ini memang se-kaya judulnya. Siapa yang tidak sabar menantikan China Rich Girlfriend & Rich People Problems?

Film Indonesia Lebaran 2018: Yang Mana Yang Paling Berkesan?

709682_720

Perilisan film Indonesia di momen lebaran memang selalu menjadi hal yang menarik untuk diikuti setidaknya bagi para pecinta film Indonesia. Selain menjadi salah satu momen dimana biasanya orang-orang terkhususnya keluarga akan berbondong-bondong datang ke bioskop, libur lebaran juga bisa dikatakan momen panennya film Indonesia. Didominasinya layar bioskop oleh film-film karya anak bangsa seakan menjadikan Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri setidaknya untuk waktu 1 hingga 2 bulan. Yang menarik diikuti tentu persaingan film-film tersebut dari segi marketing dalam mempromosikan film masing-masing, kemudian menentukan film mana yang akan ditonton terlebih dahulu (atau mungkin satu-satunya?) dan film mana yang pada akhirnya dikatakan sukses dengan perolehan penonton tertinggi di ‘masa panen’ tersebut. Jika tahun lalu Indonesia disuguhkan 4 film lebaran yang terdiri dari: Insya Allah Sah (MD Entertainment), Sweet 20 (Starvision Plus), Jailangkung (Screenplay Films) & Surat Kecil Untuk Tuhan (Falcon Pictures), maka tahun ini angkanya bertambah menjadi 5 film dengan judul-judul: Insya Allah Sah 2 (MD Entertainment), Jailangkung 2 (Screenplay Films), Target (Soraya Intercine Films), Kuntilanak (MVP Pictures) & Dimsum Martabak (RA Pictures). Dengan banyak dan beragamnya film Indonesia lebaran yang disuguhkan tahun ini, tentu penonton akan menemui kebingungan, mau nonton yang mana?

Sayangnya, harus diakui bahwa kualitas film Indonesia lebaran tahun ini mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan tahun lalu. Di tahun 2017 ada Sweet 20 yang menempati posisi pertama untuk kategori ‘terbaik’ versi Cinemaylo. Sebuah drama komedi yang manis karya Ody C Harahap yang kisahnya merupakan adaptasi dari film laris asal Korea, Miss Granny. Sweet 20 tidak hanya menghibur namun juga memiliki kualitas yang sangat baik jika dinilai dari berbagai aspek. Disamping itu, komedi Insya Allah Sah yang dibintangi Titi Kamal pun tampil menghibur sesuai dengan tujuan filmnya dibuat. Kemudian ada Surat Kecil Untuk Tuhan yang meskipun terasa cukup berat namun tidak dapat dikatakan buruk. Jailangkung mungkin menjadi satu-satunya film yang tampil mengecewakan tahun lalu. Beruntungnya film tersebut justru menjadi yang teratas dalam Raihan penonton dengan total kurang lebih 2,5 juta penonton. Tidak mengherankan jika sekuelnya pun dengan mudah ditebak kemunculannya. Lalu, jika menilai kelima film Indonesia lebaran tahun ini, manakah yang terbaik menurut Cinemaylo?

 

dimsjumDIMSUM MARTABAK (RA Pictures)

Cast: Ayu Ting Ting, Boy William, Denira Wiraguna, Muhadkly Acho, Olga Lidya, Ferry Salim, Mariam Bellina, Chew Kin Wah, Magdalena, Tyas Mirasih.

Director: Andreas Sullivan

Genre: Drama

Runtime: 98 minutes

3cinemaylo1141

Sejujurnya Cinemaylo memang tidak berekspektasi apa-apa dengan film ini. RA Pictures terhitung baru dalam industri perfilman namun trailer filmnya yang dirilis akhir bulan April cukup membuat penasaran. Dapat terlihat upaya dari rumah produksi milik Raffi Ahmad ini untuk dapat menyuguhkan film yang layak disebut sebagai ‘film layar lebar’. Surprisingly, meskipun di beberapa tempat belum dapat terhindar dari ‘unsur drama cheesy-nya’ namun film ini cukup menarik untuk disimak. Plotnya yang membahas tentang foodtruck cukup knowledgeable meskipun memang rasanya masih bisa untuk lebih diangkat. Performa dari castnya pun tidak mengecewakan khususnya Ayu Ting Ting yang memulai debutnya dengan cukup pantas. Terasa manis dibeberapa scene, Dimsum Martabak secara keseluruhan adalah film yang layak tonton dan menjadi salah satu rekomendasi dari kelima film yang rilis. Jut put your expectation low and you’ll enjoy it!

 

DdJrgnLU0AANR6SKUNTILANAK (MVP Pictures)

Cast: Sandrinna M Skornicki, Andryan Bima, Ciara Nadine Brosnan, Adlu Fahrezy, Ali Fikry, Aurelie Moeremans, Fero Walandouw, Nena Rosier, Naufal Ho.

Director: Rizal Mantovani

Genre: Horror

Runtime: 105 minutes

3cinemaylo1141

Kuntilanak sejatinya bukanlah sebuah materi baru. Kuntilanak pernah hadir di tahun 2006 lewat sutradara yang sama dengan bintang utama Julie Estelle. Kala itu, film rilisan MVP Pictures tersebut berhasil menuai kesuksesan dan tanggapan positif yang menjadikan sekuelnya dirilis hingga menjadi trilogi. Tahun ini dengan pertimbangan mengangkat kembali potensi kisah hantu berambut berkuku panjang ini, MVP Pictures kembali membuat film dengan judul serupa tanpa embel-embel ‘reborn’ atau kata lain yang memperjelas bahwa ini adalah versi baru dari kisah Kuntilanak. Dengan bintang-bintang baru namun masih dengan the winning team, Kuntilanak mencoba peruntungannya di momen libur lebaran. Hasilnya? Cukup berhasil. Meskipun tidak dapat dikategorikan sangat baik namun presentasi film ini cukup memikat. Jika Kuntilanak terdahulu sudah cukup ikonik dengan karakter Samantha, maka tahun ini tergantikan dengan sosok anak-anak kecil yang cukup mampu mencuri perhatian. Film ini pun tidak lupa menyisipkan kisah tentang Mangkudjiwo dimana disalah satu scene, karakter Samatha pun masih sempat dalam filmnya. Sayang dibeberapa bagian terasa tidak masuk akal misalnya rumah berhantu yang terlalu cepat usangnya hanya dalam waktu 4 bulan. Pun begitu tugasnya sebagai film horror dapat diselesaikan dengan baik. Beberapa jumpscare terbukti masih bekerja. Not a outstanding horror movie, but it’s worth it to watch.

 

152523462178640_300x430INSYA ALLAH SAH 2 (MD Pictures)

Cast: Pandji Pragiwaksono, Donny Alamsyah, Luna Maya, Miller Khan, Nirina Zubir, Tanta Ginting, Ray Sahetapy, Meriam Bellina, Hengky Solaiman, Inggrid Widjanarko.

Director: Anggy Umbara & Bounty Umbara

Genre: Drama, Comedy

Runtime: 91 minutes

3cinemaylo1141

Nah, inilah salah satu film yang berangkat dari kesuksesan tahun lalu. Insya Allah Sah yang sebelumnya dibesut oleh Benni Setiawan dapat dikatakan berhasil dengan raupan 830.000 penonton. Tidak sefantastis Jailangkung memang namun raihan tersebut sudah cukup menjadi alasan mengapa sekuelnya perlu dibuat. Masih dengan karakter utama Raka yang diperankan Pandji, kini departemen akting diperkuat dengan kehadiran Donny Alamsyah & Luna Maya. Jika membandingkan dengan Insya Allah Sah 1, kali ini mungkin gelaran komedinya tidak begitu berlimpah namun aksi dan eksekusinya secara keseluruhan terasa lebih rapi. Hadirnya sekuel ini rasanya juga telah memperkuat formula karakter Raka yang mungkin jika kembali menuai sukses akan dihadirkan lagi sebagai karakter polos namun pembawa berkah bagi orang-orang yang ditemuinya. Still worth it to watch!

 

DbT-DAeUwAEhFxVTARGET (Soraya Intercine Films)

Cast: Raditya Dika, Cinta Laura, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Romy Rafael, Anggika Bolsterli.

Director: Raditya Dika

Genre: Comedy, Thriller

Runtime: 93 minutes.

15

Hanya dengan menonton trailer-nya saja, kita akan dengan mudah teringat dengan film Raditya Dika terdahulu yang berjudul Hangout (2016). Bagaimana tidak, plotnya terasa sangat mirip. Sekumpulan aktor dan aktris memerankan diri mereka sendiri datang ke sebuah tempat dengan undangan syuting film namun berakhir dengan aksi saling bunuh-membunuh. Ya, Hangout memang terhitung sukses dengan jumlah penonton 2,6 juta penonton. Namun apakah itu dapat menjadi alasan yang cukup untuk kembali membuat film dengan plot sangat mirip namun dengan cast-cast baru? Alih-alih disuguhkan aksi demi aksi yang lebih menghibur, semua yang dihadirkan dalam film ini terasa sangat kosong dan tidak berkesan sama sekali. Target tidak lebih lucu dari Hangout, tidak lebih seru dan yang paling penting tidak lebih beralasan untuk ditonton. Sangat disayangkan melihat potensinya sendiri terlihat cukup besar dimana kesalahan yang dahulu terdapat dalam Hangout mungkin dapat dibayar lunas oleh Raditya Dika melalui film ini. Kita juga tahu bahwa Soraya Intercine Films sendiri selalu memiliki production value yang baik, namun lagi-lagi film ini gagal tampil mengesankan.

 

Jailangkung-2JAILANGKUNG 2 (Sky Media & Legacy Pictures)

Cast: Amanda Rawles, Jefri Nichol, Hannah Al Rasyid, Lukman Sardi, Naufal Samudra, Deddy Sutomo

Director: Jose Poernomo & Rizal Mantovani

Genre: Horror

Runtime: 83 minutes

1

Memang sering ditemui kasus dimana yang berkualitas akan kalah dengan yang lebih komersil. Sekali lagi terbukti melalui film garapan dua sutradara yang menjadi langganan film horror, Jose Poernomo & Rizal Mantovani. Seolah melanjutkan pencapaian sebelumnya, secara keseluruhan menurut Cinemaylo, Jailangkung 2 adalah film terburuk untuk lebaran tahun ini dan sampai tulisan ini diposting, film ini juga menjadi yang terlaris secara hitungan jumlah penonton. Sepanjang menyaksikan film ini, rasanya sulit ditemukan alasan mengapa film ini harus benar-benar dibuat dan ditonton selain tentunya dalam rangka meraup keuntungan semata. Bagi yang berekspektasi lebih dengan melihat trailer dan production value-nya yang terkesan menjanjikan, siap-siap untuk kembali kecewa dengan film ini. Padahal adegan awal yang dihadirkan terasa cukup menjanjikan namun lama kelaman Jailangkung 2 bergulir lebih nyeleneh dari yang terdahulu, tidak dapat ditemukan esensi filmnya seolah Jailangkung hanyalah sebuah judul film yang menarik namun hampir tidak memiliki korelasi dengan filmnya secara keseluruhan. Okay, mari kesampingkan hal-hal tersebut dan fokus dengan tugas utamanya film dengan label horror. Apakah film ini menyeramkan? Tidak sama sekali. Menegangkan? Tidak sama sekali. Lalu adakah alasan lain untuk menonton film ini selain dengan alasan penasaran? Juga tidak sama sekali. Untuk satu kali lagi, this movie a big disappointment.

So, that’s our review for this year Lebaran movie. Kalau versi kamu, bagaimana?

Hoax: Tipuan Yang Mengasyikkan

poster-hoax

“Apa yang bisa Mama lakukan supaya Ade betul-betul percaya, ini benar-benar Mama. Mama Asli.” – Mama

208D8B00-5AC6-4315-BA59-EE828FFB5C57

Cast: Vino G Bastian, Tora Sudiro, Tara Basro, Jajang C Noer, Landung Simatupang, Aulia Sarah, Permata Sari Harahap / Director: Ifa Isfansyah / Genre: Drama, Thriller, Mistery / Runtime: 80 minutes

Pertama kali melihat kemunculan film berjudul Hoax, mungkin tidak sedikit yang bertanya film apa ini? Judulnya kekinian sekali, sangat pas dengan era sekarang dimana berita baik atau cenderung buruk dengan mudah tersebar seiring semakin mudah dan berpengaruhnya media sosial di akses. Tingkat kebenaran sebuah berita instan tentu tidak terhindar dari istilah hoax dikarenakan tuntutan perkembangan dunia digital yang teramat cepat. Tetapi film ini tentu bukan tentang itu. Setelah ditelisik, Film ini rupanya memang bukan projek baru, wajar gaung dan promosinya hampir-hampir tidak terdengar. Pun begitu, ada nama sutradara peraih piala citra dibaliknya, Ifa Isfansyah yang pernah menelurkan karya apiknya salah satunya berjudul Sang Penari. Selain Ifa, sederet aktor lintas generasi seperti Vino G. Bastian, peraih citra aktris terbaik Tara Basro, Tora Sudiro, Aulia Sarah, Jajang C. Noer serta Landung Simatupang berada di jajaran casts. Filmnya sendiri berjudul awal Rumah dan Musim Hujan adalah film yang dibuat tahun 2012 namun belum sempat dirilis secara komersil. Setelah melakukan screening dibeberapa festival baik luar maupun dalam, akhirnya dengan momen yang dirasa pas oleh pihak rumah produksi Indy Pictures, film ini kemudian dirilis dengan judul baru.

Rumah-dan-Musim-Hujan-openingBercerita tentang kisah kehidupan tiga kakak-beradik, Ragil (Vino G. Bastin), Raga (Tora Sudiro) dan Ade (Tara Basro) yang datang dari sebuah keluarga yang tengah mengalami proses perceraian. Ibunya (Jajang C. Noer) kini tidak tinggal lagi dirumah mereka. Pada suatu hari, mereka berkumpul lagi dirumah Bapak (Landung Simatupang). Selepas makan malam tersebut, Raga dan Adek yang sudah tidak tinggal bersama Ragil dan Bapak kembali kerumah masing-masing. Satu persatu rahasia dari mereka terkuak. Ragil berusaha menutupi sebuah rahasia besar dari keluarganya, Raga tengah dihadapkan persoalan dengan kekasihnya, Sukma (Aulia Sarah) dan Adek yang mengalami kejadian mencekam dirumah kontrakannya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Memiliki konflik terpisah, film ini punya tingkat keseruan yang sebenarnya cukup tinggi untuk diikuti. Sesekali memang terasa seperti sebuah omnibus, formula yang beberapa tahun lalu ramai-ramai dibuat oleh sineas-sineas film Indonesia. Karakter-karakter utama muncul dengan permasalahan yang berbeda-berbeda namun masih memiliki benang merah. Film ini menawarkan beberapa genre dimana nuansa drama, misteri dan thriller yang kuat secara sekaligus dapat dirasakan oleh penonton. Tentu hal yang sangat menarik. Sayangnya, dikarenakan telah melewati proses perombakan yang cukup banyak editingnya terasa kurang mulus dibeberapa bagian. Menurut infonya sendiri awalnya setiap cerita memang dibuat terpisah, dimana satu kisah selesai kemudian dilanjutkan dengan kisah dari karakter berikutnya. Melihat kenyataan bahwa filmnya dirilis 6 tahun dari jadwal awal dan dirasa perlu mendapat penyesuaian akhirnya dilakukan perubahan pada susunan gambar. Belum lagi urusan sensor yang membuat tidak hanya durasinya menjadi sedemikian singkat namun juga eksplorasi kisah dari salah satu karakternya tidak mendapat porsi yang seimbang.

hoax-coverLantas apakah film ini berakhir buruk begitu saja? Tentunya tidak sama sekali. Hoax punya plot unik yang meskipun tidak baru, bisa dikatakan masih sangat jarang diangkat sebelumnya. Mengangkat sesuatu yang terasa baru, Ifa dengan lihai secara intens mengajak penonton untuk terus menebak apa sebenarnya yang terjadi terhadap karakter-karakter didalam filmnya. Nilai plus lainnya adalah penampilan cemerlang dari para cast-nya. Vino, Tara dan Tora yang memerankan tiga karakter utama dalam film ini berhasil memberikan presentasi yang baik untuk masing-masing karakter. Begitupun Landung Simatupang yang tampil apik lewat perannya sebagai Bapak. Sarah Aulia cukup mencuri perhatian meski hanya berada dibarisan pendukung. Namun jika ada juara dalam film ini maka aktris senior berbakat, Jajang C. Noer lah adalah pemenangnya. Sosok ibu yang misterius berkali-kali mengecoh penonton yang sudah terlanjur dibuat simpati dan peduli akan karakternya.

Satu hal lain yang semakin memperkokoh filmnya adalah naskah yang baik. Filmnya bergulir realistis lewat hadirnya premis dan dialog-dialog keseharian yang terasa begitu dekat dengan penonton. Sesekali mengundang tawa namun menit-menit berikutnya akan menimbulkan banyak ketegangan dan tanda tanya besar. Ini adalah sebuah alternatif yang sangat mujarab bagi penonton yang belakangan ini hanya disuguhkan film-film komersil yang tentu mudah ditebak jalan dan akhir ceritanya.

Screen-Shot-2018-01-12-at-16.27.35-640x269Hoax memang bukan film yang umumnya akan mudah dimengerti apalagi disukai khususnya penonton awam. Mungkin akan banyak menimbulkan pertanyaan namun justru itu istimewanya. Sebuah film tidak hanya dapat ditonton namun juga didiskusikan. Yang pasti lewat makna sederhana yang terkandung didalamnya tentang mitos, sebuah kejujuran dan kepercayaan, film ini dapat menunjukkan kelasnya. Ibarat makanan, sudah bosan dengan menu-menu yang itu-itu saja, ini adalah suguhan lain yang perlu untuk dicicipi. Karena sesekali diajak berpikir memang perlu, agar semuanya menjadi lebih seimbang.

Dilan 1990: Suguhan Manis Dari Novel Laris

“Milea, kamu cantik tapi aku belum mencintaimu, ga tau kalau sore, tunggu aja” – Dilan

208D8B00-5AC6-4315-BA59-EE828FFB5C57

Cast: Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, Yoriko Angeline, Brandon Salim, Debo Andryos Aryanto, Zulfa Maharani, Giulio Parengkuhan, Refal Hadi, Ria Irawan, Happy Salma / Director: Fajar Bustomi & Pidi Baiq / Genre: Drama, Romance / Runtime: 115 minutes

Fenomenal dan dicintai pembacanya, dua kata yang setidaknya mampu menggambarkan kesuksesan Dilan, novel teenlit yang pertama kali diterbitkan pada bulan April 2014. Ditengah menurunnya penjualan buku laris karya penulis fiksi lokal, novel karya Pidi Baiq tersebut seakan membawa angin segar dalam kiprah perbukuan nasional. Tidak membutuhkan waktu yang lama, novel berdasarkan kisah nyata tersebut di cetak berkali-kali dan semakin populer dimana-mana. Tidak sedikit dari fans novelnya berharap kisah Dilan diangkat ke layar lebar. Sempat mengkonfirmasi bahwa novelnya tidak akan dibuatkan filmnya, adalah Max Pictures, rumah produksi yang berhasil membeli hak ciptanya untuk dibuatkan versi filmnya yang rilis diawal tahun ini.

C7103EF4-9D10-425A-96A4-B72CB83D1F8BMax Pictures yang masih merupakan bagian dari Falcon Pictures memang nampaknya semakin jeli dalam memilih materi filmnya. Setelah suksesnya Warkop DKI Reborn dan Comic 8, kini giliran Dilan yang dilirik. Falcon Pictures sendiri dapat dikatakan semakin serius dalam menggarap proyek-proyeknya Begitupun dengan Dilan yang mendapat treatment istimewa. Pengumuman siapa saja casts terpilih yang dilakukan pertengahan tahun lalu diwarnai pro dan kontra dari para fanatik novelnya. Yang paling menjadi highlight adalah sosok Dilan yang jatuh ke tangan mantan personel grup vokal CJR, Iqbaal mendapat kontra yang cukup banyak. Kala itu tidak sedikit yang memprediksi filmnya akan gagal karena karakter utama diperankan aktor yang dianggap ‘kurang mewakili’ apa yang menjadi imajinasi banyak orang selama ini. Lalu benarkah hasilnya tidak maksimal?

Milea (Vanesha Prescilla) adalah anak baru pindahan dari Jakarta sedangkan Dilan (Iqbaal Ramadhan) adalah siswa yang terkenal sering tawuran namun baik hati. Mereka bertemu di tahun 1990 disebuah SMA di Bandung dengan perkenalan yang tidak biasa. Dilan yang unik dan romantis dengan cepatnya masuk kedalam kehidupan Milea. Dilan meramal suatu hari nanti Milea akan menjadi pacarnya. Hal tersebut tidak berjalan mulus begitu saja mengingat Milea sudah memiliki kekasih di Jakarta bernama Beni (Brandon Salim). Perjalanan cinta mereka yang diwarnai berbagai konflik tidak menggetarkan keduanya yang mulai saling rindu, melengkapi dan membutuhkan satu sama lain.

Apa yang membuat Dilan begitu istimewa? Rupanya bahasanya yang dikemas ringan, puitis dan senantiasa mengundang tawa adalah kekuatan dari novelnya. Menerjemahkan novel menjadi sebuah film memang bukan pekerjaan yang mudah. Tidak jarang berakhir mengecewakan. Meskipun memiliki materi sederhana tidak lantas membuat pekerjaan Fajar Bustomi & Pidi Baiq sendiri selaku penulis novel sekaligus sutradara menjadi mudah. Beberapa faktor tentu menjadi sangat penting perannya dalam pengangkatan cerita yang mengambil latar Bandung ini. Sebagai orang yang belum pernah membaca novelnya, rasanya pemilihan casts tergolong tepat. Iqbaal yang banyak diragukan mampu membuktikan bahwa pilihan kreator dibalik film ini tidak salah. Tanpa kelihatan ragu sama sekali, Dilan diperankan dengan sangat baik olehnya. Karakter Dilan yang cuek, berani dan pemberontak namun rajin mengucapkan kata-kata puitis berhasil diwujudkannya dengan cukup sempurna. Begitupun Milea (Vanesha Prescilla) dimana chemistry-nya dengan Panglima Tempur mampu dirasakan oleh siapapun yang menyaksikannya.

9CA6B81C-0FF1-4222-B916-9266B3A03C7DDilan 1990 beruntungnya tidak pernah benar-benar menjadi kisah percintaan yang di dramatisir disana-sini. Dialog-dialog ringan yang sesekali terdengar kaku mampu termaafkan. Beberapa karakter terasa amat tipikal namun konfliknya yang tidak begitu beragam justru membuat film terasa semakin realistis, dimana sudah barang tentu hal tersebut adalah poin positif. Fajar & Pidi secara konsisten mampu membuat perasaan penontonnya menjadi campur aduk dan terbawa kedalam kisahnya sehingga penonton juga dibuat peduli akan karakter-karakternya. Jika sudah sampai pada level tersebut, sebuah adaptasi rasanya dapat dikatakan berhasil.

Keputusan pihak studio untuk mengangkat Dilan ke layar lebar nampaknya adalah sebuah keputusan yang tepat. Dengan pencapaian demikian, Dilan tidak hanya menjadi proyek yang dibuat atas alasan keuntungan semata tetapi juga menjadi jawaban atas permintaan fans yang sudah lama ingin kisah Dilan difilmkan. Bersiaplah meleleh melalui kisah cinta sederhana yang. Jangan skeptis dulu sebelum benar-benar menyaksikannya karena Dilan bisa saja mengembalikan ketidakpercayaan masyarakat akan film drama Indonesia yang dianggap akan selalu berakhir ‘menye-menye’. Pada akhirnya para pembacanya lah yang berhak menilai lebih dalam apakah adaptasinya berhasil atau tidak. Terlepas dari puas atau tidak puas jika berdiri sendiri sebagai sebuah film, ini adalah film yang sederhana, manis dan cukup memikat.

Nominasi Academy Awards 2018: Shape of Water Memimpin, Oscar #NotSoWhite Tahun Ini

oscar-nominations-2018Pagelaran Academy Awards yang tahun ini memasuki tahun ke 90 akhirnya mengumumkan para nominatornya kemarin malam live dari The Samuel Goldwyn Theater in Beverly Hills, California. Sineas-sineas yang sebelumnya sudah berjaya di ajang perfilman seperti Golden Globe Awards, SAG Awards dan beberapa ajang lainnya juga muncul mengisi jajaran nominasi Oscars 2018 sebut saja Guillermo Del Toro (Directing), Frances McDormand (Leading Actress), Gary Oldman (Leading Actor), Saiorse Ronan dan lainnya. Nominasi terbanyak diraih film Shape of Water dengan jumlah 13 nominasi sedangkan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri yang memenangkan kategori Film Terbaik dalam dua ajang besar meraih total 7 nominasi. Dibalik nama yang sudah dengan diprediksi akan meraih nominasi tentu bukan Oscar namanya jika tanpa kejutan. Mulai dari James Franco (The Disaster Artist), Michelle Williams (All The Money In The World) hingga film Wonder Woman yang dianggap unggul di kategori teknis tidak mendapat apresiasi dari Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) sedangkan Daniel Kaluuya melalui debutnya, Get Out berhasil mendapat nominasi. Hugh Jackman juga aktor lain yang tidak berhasil masuk sebagai salah satu nominator atas peran apiknya dalam The Greatest Showman. Beruntung This Is Me tidak serta merta hilang dari daftar nominasi. Akankah tahun ini Academy Awards  mencetak kuda hitam yang akan membawa pulang piala Oscar tanpa diprediksi sebelumnya?

Berikut nominasi lengkapnya!

Best Picture:

“Call Me by Your Name”
“Darkest Hour”
“Dunkirk”
“Get Out”
“Lady Bird”
“Phantom Thread”
“The Post”
“The Shape of Water”
“Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”

Lead Actor:

Timothée Chalamet, “Call Me by Your Name”
Daniel Day-Lewis, “Phantom Thread”
Daniel Kaluuya, “Get Out”
Gary Oldman, “Darkest Hour”
Denzel Washington, “Roman J. Israel, Esq.”

Lead Actress:

Sally Hawkins, “The Shape of Water”
Frances McDormand, “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”
Margot Robbie, “I, Tonya”
Saoirse Ronan, “Lady Bird”
Meryl Streep, “The Post”

Supporting Actor:

Willem Dafoe, “The Florida Project”
Woody Harrelson, “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”
Richard Jenkins, “The Shape of Water”
Christopher Plummer, “All the Money in the World”
Sam Rockwell, “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”

Supporting Actress:

Mary J. Blige, “Mudbound”
Allison Janney, “I, Tonya”
Lesley Manville, “Phantom Thread”
Laurie Metcalf, “Lady Bird”
Octavia Spencer, “The Shape of Water”

Director:

“Dunkirk,” Christopher Nolan
“Get Out,” Jordan Peele
“Lady Bird,” Greta Gerwig
“Phantom Thread,” Paul Thomas Anderson
“The Shape of Water,” Guillermo del Toro

Animated Feature:

“The Boss Baby,” Tom McGrath, Ramsey Ann Naito
“The Breadwinner,” Nora Twomey, Anthony Leo
“Coco,” Lee Unkrich, Darla K. Anderson
“Ferdinand,” Carlos Saldanha
“Loving Vincent,” Dorota Kobiela, Hugh Welchman, Sean Bobbitt, Ivan Mactaggart, Hugh Welchman

Animated Short:

“Dear Basketball,” Glen Keane, Kobe Bryant
“Garden Party,” Victor Caire, Gabriel Grapperon
“Lou,” Dave Mullins, Dana Murray
“Negative Space,” Max Porter, Ru Kuwahata
“Revolting Rhymes,” Jakob Schuh, Jan Lachauer

Adapted Screenplay:

“Call Me by Your Name,” James Ivory
“The Disaster Artist,” Scott Neustadter & Michael H. Weber
“Logan,” Scott Frank & James Mangold and Michael Green
“Molly’s Game,” Aaron Sorkin
“Mudbound,” Virgil Williams and Dee Rees

Original Screenplay:

“The Big Sick,” Emily V. Gordon & Kumail Nanjiani
“Get Out,” Jordan Peele
“Lady Bird,” Greta Gerwig
“The Shape of Water,” Guillermo del Toro, Vanessa Taylor
“Three Billboards Outside Ebbing, Missouri,” Martin McDonagh

Cinematography:

“Blade Runner 2049,” Roger Deakins
“Darkest Hour,” Bruno Delbonnel
“Dunkirk,” Hoyte van Hoytema
“Mudbound,” Rachel Morrison
“The Shape of Water,” Dan Laustsen

Best Documentary Feature:

Best Documentary Short Subject:

“Edith+Eddie,” Laura Checkoway, Thomas Lee Wright
“Heaven is a Traffic Jam on the 405,” Frank Stiefel
“Heroin(e),” Elaine McMillion Sheldon, Kerrin Sheldon
“Knife Skills,” Thomas Lennon
“Traffic Stop,” Kate Davis, David Heilbroner

Best Live Action Short Film:

“DeKalb Elementary,” Reed Van Dyk
“The Eleven O’Clock,” Derin Seale, Josh Lawson
“My Nephew Emmett,” Kevin Wilson, Jr.
“The Silent Child,” Chris Overton, Rachel Shenton
“Watu Wote/All of Us,” Katja Benrath, Tobias Rosen

Best Foreign Language Film:

“A Fantastic Woman” (Chile)
“The Insult” (Lebanon)
“Loveless” (Russia)
“On Body and Soul (Hungary)
“The Square” (Sweden)

Film Editing:

“Baby Driver,” Jonathan Amos, Paul Machliss
“Dunkirk,” Lee Smith
“I, Tonya,” Tatiana S. Riegel
“The Shape of Water,” Sidney Wolinsky
“Three Billboards Outside Ebbing, Missouri,” Jon Gregory

Sound Editing:

“Baby Driver,” Julian Slater
“Blade Runner 2049,” Mark Mangini, Theo Green
“Dunkirk,” Alex Gibson, Richard King
“The Shape of Water,” Nathan Robitaille, Nelson Ferreira
“Star Wars: The Last Jedi,” Ren Klyce, Matthew Wood

Sound Mixing:

“Baby Driver,” Mary H. Ellis, Julian Slater, Tim Cavagin
“Blade Runner 2049,” Mac Ruth, Ron Bartlett, Doug Hephill
“Dunkirk,” Mark Weingarten, Gregg Landaker, Gary A. Rizzo
“The Shape of Water,” Glen Gauthier, Christian Cooke, Brad Zoern
“Star Wars: The Last Jedi,” Stuart Wilson, Ren Klyce, David Parker, Michael Semanick

Production Design:

“Beauty and the Beast,” Sarah Greenwood; Katie Spencer
“Blade Runner 2049,” Dennis Gassner, Alessandra Querzola
“Darkest Hour,” Sarah Greenwood, Katie Spencer
“Dunkirk,” Nathan Crowley, Gary Fettis
“The Shape of Water,” Paul D. Austerberry, Jeffrey A. Melvin, Shane Vieau

Original Score:

“Dunkirk,” Hans Zimmer
“Phantom Thread,” Jonny Greenwood
“The Shape of Water,” Alexandre Desplat
“Star Wars: The Last Jedi,” John Williams
“Three Billboards Outside Ebbing, Missouri,” Carter Burwell

Original Song:

“Mighty River” from “Mudbound,” Mary J. Blige
“Mystery of Love” from “Call Me by Your Name,” Sufjan Stevens
“Remember Me” from “Coco,” Kristen Anderson-Lopez, Robert Lopez
“Stand Up for Something” from “Marshall,” Diane Warren, Common
“This Is Me” from “The Greatest Showman,” Benj Pasek, Justin Paul

Makeup and Hair:

“Darkest Hour,” Kazuhiro Tsuji, David Malinowski, Lucy Sibbick
“Victoria and Abdul,” Daniel Phillips and Lou Sheppard
“Wonder,” Arjen Tuiten

Costume Design:

“Beauty and the Beast,” Jacqueline Durran
“Darkest Hour,” Jacqueline Durran
“Phantom Thread,” Mark Bridges
“The Shape of Water,” Luis Sequeira
“Victoria and Abdul,” Consolata Boyle

Visual Effects:

The Death Cure: Sebuah Penutup yang Pantas

TDCposter

Every Maze Has An End.

3cinemaylo1141

Cast: Dylan O’Brien, Ki Hong Lee, Will Poutler, Kaya Scodelario, Thomas Brodie-Sangster, Rosa Salazar, Ava Paige / Director: Wes Ball / Genre: Action, Sci-Fi, Thriller / Runtime: 142 minutes

Film yang diangkat dari novel young adult beberapa tahun belakangan memang sempat menjadi tren. The Hunger Games yang sukses tidak hanya secara finansial namun juga dipuji kritikus mau tidak mau diakui menjadi salah satu alasan ramainya formula tersebut diangkat ke layar lebar. Kemudian muncul Divergent yang dibintangi Shailene Woodley. Berselang beberapa bulan kemudian giliran novel karya James Dashner, The Maze Runner yang dibuatkan versi filmnya. Menandai debut Wes Ball sebagai sutradara, kala itu babak pertama kisah labirin yang misterius mendapat reaksi dan tanggapan beragam. Banyak yang memberikan apresiasi positif karena berhasil tersaji sebagai film yang seru dan memiliki bobot tetapi ada juga berpendapat lain. Kini, babak terakhir dari trilogi Maze Runner berjudul The Death Cure yang akan menutup kisah Thomas dan kawan-kawan akhirnya dirilis setelah mundur dari jadwal rilis awal.

mz1Bersama dengan anggota yang masih tersisa, kelompok Glatder yang dipimpin Thomas (Dylan O’Brien) kini harus memasuki tantangan terakhir yakni The Last City. Dalam upayanya, mereka gagal menyelamatkan Min Ho (Ki Hong Lee) yang kini menjadi tahanan W.C.K.D, subjek tes projek ilmiah yang dikerjakan oleh Teresa (Kaya Scodelario) yang berkhianat. Tidak ada pilihan lain bagi Glatder selain mengambil alih kendali The Last City untuk memenangkan pertarungan.

Jika melihat kembali dua seri sebelumnya, Ball melakukan pekerjaan yang cukup baik. Hal tersebut membuat PR sang sutradara untuk menutup film ini tentu juga cukup berat. Flashback, film pertama digunakan sebagai pengenalan karakter-karakternya. Sebagai sebuah film yang tidak berbujet besar, Ball sukses menghadirkan ketegangan lewat adegan-adegan yang dibungkus dengan dark tone yang amat menarik. Film kedua mengeksplor lebih banyak adegan aksi meloloskan diri dari wujud zombie yang menghiasi sepanjang film dengan pace yang intens dan cerita yang lebih kompleks. Jika Anda bukan benar-benar fansnya maka mungkin akan membutuhkan waktu untuk mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya mengingat film ketiganya memiliki selisih dua tahun setelah yang kedua tayang di bioskop.

thedeathcure1Tanpa berlama-lama The Death Cure langsung tancap gas. Gelaran aksi yang bergulir sejak awal seakan mencoba mengajak penonton untuk langsung memperbaiki posisi duduk menyaksikan perjalanan Glatder sambil berpikir apa dan kemana lagi Thomas beserta teman-temannya berpetualang demi  menghentikan upaya organisasi gelap W.C.K.D. Penggarapan yang matang terlihat dari adegan demi adegan yang dibuat sedemikian rapi. Dylan O’Brien yang memegang kendali utama mampu menunjukkan performa yang sekali lagi apik. Meskipun chemistry antara karakter satu dengan karakter yang lain masih terasa kurang meyakinkan namun beruntungnya plot yang secara konsisten menceritakan kisah perjuangan bertahan hidup, pengkhianatan hingga persahabatan masih dapat disuguhkan dengan cukup baik, tidak sampai pada tahap membosankan.

Untuk itu, just keep your expectation low. Selama ekspektasi yang dipasang tidak berlebihan, Maze Runner memang akan selalu menjadi film yang menghibur. Sayangnya jika harus dibandingkan dengan pendahulunya, babak pertama tetaplah yang paling unggul dimana premis, efek visual dan sinematografi mampu melebur menjadi satu kesatuan yang membuat filmnya tampil memikat.

tdc1Pun begitu, kabar baiknya The Death Cure  tidak perlu dibagi menjadi dua bagian seperti yang banyak dilakukan film lain dengan alasan ingin meraup keuntungan dua kali, karena jika Ball dan pihak studio melakukan hal tersebut bisa jadi akan hasilnya akan berakhir dengan konklusi yang cenderung buruk. Premisnya sekali lagi tidak menawarkan sesuatu yang baru sehingga kisah akhir sekelompok anak muda yang terjebak dalam berbagai situasi melawan demi merasanya tidak perlu mendapat perpanjangan hingga dua bagian. Dengan durasi yang masih lebih dari dua jam, ini adalah sebuah penutup yang meskipun tidak istimewa namun dapat dikatakan cukup pantas. At least, secara keseluruhan trilogi ini berhasil dikerjakan dengan cukup baik, tidak berakhir seperti The Mortal Instruments: City of Bones ataupun The Host yang belum (atau malah) tidak jelas kelanjutannya, membuat Maze Runner menjadi cukup beralasan untuk dimulai kemudian diselesaikan.

Logan Lucky: Comeback Cerdas Sutradara Oscar

 

LLPOSTER

“You sucked my arm off!” – Clyde Logan

41

Cast: Channing Tatum, Adam Driver, Daniel Craig, Jack Quaid, Brian Gleeson, Riley Keough, Rebecca Koon, Katie Holmes, Farrah MacKenzie, Seth MacFarlane / Director: Steven Soderbergh / Genre: Comedy, Crime, Drama / Runtime: 118 minutes

Keputusan sutradara berbakat yang telah menelurkan berbagai karya-karya berkualitas, Steven Soderbergh untuk mundur dari dunia perfilman beberapa tahun silam tidak hanya menjadi kabar yang cukup mengejutkan melainkan juga amat disayangkan banyak pihak. Bagaimana tidak, film-film yang dibuatnya selalu mendapat sambutan dan review positif.  Torehan nominasi dan penghargaan dari berbagai ajang semakin membuktikan potensi besar yang dimilikinya. Beruntungnya, setelah benar-benar berhenti merilis film, tahun 2017 ia kembali ke bangku penyutradaraan lewat film bertema heist berunsur komedia yang menandai comeback-nya.

LL1Jimmy Logan (Channing Tatum) dan Clyde Logan (Adam Driver) adalah dua bersaudara yang masing-masing memiliki kekurangan. Jimmy pincang atas sebuah peristiwa yang dialaminya begitupun dengan Clyde yang kehilangan salah satu tangannya setelah di amputasi akibat kecelakaan saat ia menjadi tentara. Hal tersebut yang membuat mereka menyebut keluarga Logan adalah keluarga terkutuk. Jimmy yang baru saja dipecat merencanakan sebuah aksi pencurian dengan mengajak Clyde demi mendapatkan uang banyak dari acara balapan NASCAR, tempat dimana ia dulunya bekerja. Demi melancarkan aksinya, mereka kemudian merekrut perampok handal Joe Bang (Daniel Craig) yang sedang dipenjara, Fish dan Sam (Jack Quaid dan Brian Gleeson) dua bersaudara yang dulunya juga merupakan mantan perampok dan juga dibantu adik mereka, Mellie Logan (Riley Keough). Sayangnya, perampokan itu kemudian berhasil diketahui oleh CIA. Bagaimana akhir kisahnya?

Bagi sebagian besar orang, Logan Lucky mungkin tidak menarik lagi kehadirannya. Filmnya sendiri memang sudah rilis sejak Agustus tahun lalu di Amerika. Tidak dirilis secara serentak dimana jadwalnya terpaut jauh dari tanggal perilisan di Amerika, perilisannya di Indonesia sendiri terkesan tanpa publikasi (atau malah kami yang kurang informasi?) membuat film ini terasa bagaikan film kelas B yang hanya akan dirilis untuk menghabiskan stok film yang belum tayang. Setidaknya hal tersebut yang ada dibenak kami sebagai orang yang tidak tahu banyak akan filmnya. Tetapi setelah melihat sineas yang berada dibaliknya, belum lagi jajaran aktornya mulai dari Channing Tatum, Adam Driver hingga aktor pemeran James Bond, Daniel Craig tentu ini bukan film main-main meskipun terkadang casts yang bagus tidak dapat menjadi jaminan kualitas sebuah film.

logan-lucky-daniel-craigLalu bagaimana hasil akhirnya? Luar biasa. Logan Lucky merupakan sebuah comeback yang berhasil dan sangat menyenangkan. Soderbergh mampu menyajikan kisah perampokan yang seru, punya unsur komedi yang berkelas dan tentunya didukung performa pemain yang sangat baik. Ini adalah kali keempat Tatum bermain dalam film arahan sutradara yang meraih Oscar lewat Traffic (2000) ini sehingga mungkin tidak ada kesulitan dalam keduanya untuk bekerja sama menampilkan sosok karakter utama yang protagonis yang menjadi otak dari perampokan namun tetap mampu meraih simpati penontonnya. Driver juga tidak kalah bagusnya dalam memerankan tokoh Clyde. Meskipun kabarnya Michael Shannon dan Matt Damon-lah yang sebelumnya di plot untuk memerankan dua karakter utama tersebut namun Tatum & Driver rasanya sudah menjadi pilihan yang tepat. Sementara itu penampilan baik lainnya datang dari Quaid & Gleeson yang secara konsisten hadir sebagai ‘penghibur’ dalam film ini namun saja mungkin tidak ada yang sesukses Craig dimana karakter Joe Bang ditangannya menjadi sangat licik, menghibur dan memorable. Sebuah pertunjukan yang amat baik dari seluruh aktor dan aktris yang terlibat didalamnya.

Keseruan lainnya juga dapat dirasakan melalui upaya cerdas Soderbergh menampilkan adegan demi adegan dengan sangat menarik. Dari film ini kita bisa tahu ternyata dalam event balap sebesar NASCAR, ada sistem perputaran uang yang begitu unik, mungkin tidak banyak yang tahu sebelumnya. Selain itu ada teknik menyelinap dibawah mobil yang sangat rapi dan adegan menarik lainnya. Beberapa diantaranya mungkin  tidak masuk diakal tetapi siapa yang peduli, sang sutradara mampu mengemasnya menjadi film yang bergulir sangat menghibur. Bagian terbaik lainnya adalah sisi drama yang diangkat dengan porsi yang pas. Tanpa dramatisasi yang berlebihan, kita tetap mampu bersimpati akan hubungan keluarga Logan khususnya hubungan Jimmy dan anak serta sang mantan istri yang hadir dengan konflik sehari-hari. Peran Rebecca Blunt, sang penulis naskah tentu juga patut mendapat apresiasi. Dialog-dialog ringan namun ‘berisi’ memungkinkan film untuk tetap terasa meyakinkan dan terasa dekat. Logan Lucky membuktikan, sebuah film bagus memang tidak perlu berteriak untuk menunjukkan kualitasnya. Ringan, cerdas dan yang pasti sangat menghibur. Brilliant!

The Commuter: Formula Klise yang Menghibur

thecommuterposter

“It doesn’t have to end this way. Think about Karen, Danny…” – Joanna

3cinemaylo1141

Cast: Liam Neeson, Vera Farmiga, Patrick Wilson, Jonathan Banks, Sam Neil, Elizabeth McGovern, Killian Scott / Director: Jaume Collet-Serra / Genre: Action, Crime, Drama / Runtime: 105 minutes

Absen ditahun 2017 lalu dimana tidak ada nama Liam Neeson yang menghiasi layar bioskop Indonesia, mungkin ini bisa saja menjadi kabar menggembirakan bagi mereka yang ingin kembali melihat aksi aktor paruh baya tersebut dalam layar lebar. Sebenarnya Neeson tidak benar-benar absen. Ia membintangi beberapa serial tv dan bermain di film layar lebar yang hanya rilis terbatas. Berbicara mengenai karirnya sendiri, nama Neeson tentu sudah tidak asing lagi (bahkan mungkin sangat terkenal) di kalangan penonton dunia khususnya di Indonesia. Tentu kita tidak mungkin lupa dengan Taken, film aksi tahun 2006 yang filmnya dibuat sampai 3 babak yang turut melambungkan namanya. Kala itu Taken hadir dengan premis yang amat menarik mampu tampil sebagai salah satu film aksi yang tidak hanya berbobot tetapi juga sangat seru. Dianggap berhasil dalam menghidupkan karakter Bryan Mills, Neeson mendapat peran senada dalam film berjudul Non-stop dan kemudian Run All Night. Seakan sudah menjadi peran stereotipnya tahun ini ia kembali dengan film bertajuk The Commuter.

thumbnail_26856Film berkisah tentang seorang agen asuransi, Michael MacCauley (Liam Neeson) yang baru saja dipecat dari kantornya. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, pilihan pekerjaan untuknya tentu tidak banyak. Dalam perjalanan pulangnya, ia bertemu dengan Joanna (Vera Farmiga) wanita misterius yang secara tiba-tiba menawarinya pekerjaan yang terkesan mudah dan mendatangkan uang dalam jumlah yang cukup besar. Tugasnya adalah mencari sosok penumpang yang dianggap tidak seharusnya berada di dalam kereta yang ditumpanginya. Berbekal pengetahuannya sebagai penumpang kereta sejak 10 tahun terakhir, MacCauley pun memilih menerima tawaran tersebut yang pada akhirnya membawanya mau tidak mau menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.

Mudah ditebak, premisnya masih akan membahas keluarga dimana lagi lagi Neeson dihadapkan diposisi yang sulit yang menyangkut keselamatan orang yang dicintainya. Bosan? Tentu saja tidak. Film ini menandai kerjasama ketiga kali antara Neeson dan Jaume Collet-Serra yang sepertinya sudah menemukan formula yang pas dalam mengaduk-aduk perasaan penontonnya untuk ikut merasakan ketegangan dari tokoh utama yang diperankan Neeson dengan pas (meskipun tidak lagi menjadi sesuatu yang spesial). Sang aktor mungkin tidak sebugar biasanya namun sulit dipungkiri ia masih memiliki kharisma yang amat besar untuk peran sejenis. Meskipun rasanya tidak sejor-joran biasanya, adegan-adegan yang dilakoninya dalam kereta pun tersaji sangat rapi didukung dengan tata kamera yang mumpuni, terbukti masih mampu membuat penonton seolah-olah terbawa dalam aksi demi aksi dalam filmnya.

The-Commuter-Movie-Review-Liam-NeesonMeskipun tidak sampai dalam hitungan yang membosankan, apa yang tersaji dalam The Commuter sayangnya memang benar-benar tidak ada yang baru. Semua elemen yang hadir dalam film ketiga kolaborasi sang sutradara dan aktor berusia 65 tahun itu sudah pernah dihadirkan di film-film sebelumnya membuat The Commuter memang tidak lagi se-spesial Non-Stop apalagi Taken babak pertama. Naskahnya cukup padat meskipun diparuh akhir terasa kendur begitu saja. Beruntungnya cast lain masih mampu memberikan kontribusi positif dalam perannya masing-masing sehingga tidak terkesan hanya sebatas pemanis saja. Duo Vera Farmiga-Patrick Wilson yang terlanjur dikenal dalam perannya sebagai pasangan suami-istri Warren dalam The Conjuring tetap mampu tampil menarik.

Akhir kata, The Commuter tetaplah layak untuk ditonton tidak hanya bagi mereka penggemar Neeson namun juga kalian yang gemar akan film bergenre aksi berformula sama. Tetapi jika diibaratkan makanan yang disajikan tidak setiap hari tetapi berkala, tentu lama-lama akan terasa biasa saja. Yang pasti, jika masih diminati dan masih mampu meraup untung besar, film sejenis masih akan terus bermunculan dan Neeson akan tetap menjadi salah satu kandidat terdepan.